Nusawarta.id, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyambut Ramadan 1447 Hijriah dengan menggelar kajian keagamaan dan pemberian santunan kepada ratusan pekerja pendukung di lingkungan kantor pusat. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Bhineka Tunggal Ika BPOM, Jakarta, tersebut menjadi momentum untuk memperkuat empati sosial sekaligus memperdalam makna spiritual Ramadan di lingkungan lembaga.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum ibadah personal, tetapi juga kesempatan bagi lembaga untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, khususnya para pekerja yang selama ini berperan menjaga operasional kantor tetap berjalan baik.
“BPOM berdiri bukan hanya oleh pejabat dan tenaga profesional, tetapi juga oleh orang-orang yang setiap hari memastikan kantor tetap bersih, aman, dan berjalan. Ramadan adalah waktu terbaik untuk menghormati dan berbagi kepada mereka,” ujar Taruna Ikrar, kemarin.
Dalam kajian keagamaan tersebut, BPOM menghadirkan dai kondang Nur Maulana yang memberikan tausiyah kepada jajaran pegawai, baik secara luring di Jakarta maupun daring yang diikuti kantor-kantor BPOM di seluruh Indonesia.
Pada kesempatan itu, Taruna Ikrar juga mengulas makna puasa sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183. Menurutnya, perintah puasa tidak hanya berdimensi ibadah, tetapi juga menyimpan hikmah besar bagi kesehatan tubuh dan peningkatan ketakwaan.
Ia menjelaskan, saat seseorang berpuasa sekitar 16 jam, terdapat tiga proses fisiologis penting yang terjadi di dalam tubuh. Proses pertama adalah glikolisis, yakni pemecahan glukosa. Dalam delapan jam pertama, tubuh memanfaatkan cadangan energi dari makanan sahur. Setelah itu, tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi.
“Proses ini membantu membersihkan pembuluh darah dari simpanan yang berpotensi menjadi sumber penyakit,” jelasnya.
Proses berikutnya adalah autofagi, mekanisme alami tubuh dalam membuang sel-sel rusak dan menggantinya dengan sel baru melalui regenerasi. Mekanisme ini dinilai berkontribusi dalam mencegah berbagai penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes, penyakit degeneratif, hingga kanker dan jantung koroner.
Taruna Ikrar berharap kegiatan keagamaan yang dipadukan dengan kepedulian sosial ini dapat menjadi budaya baru di BPOM sebagai lembaga pengawas yang tidak hanya kuat dalam sains dan regulasi, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ustadz Nur Maulana mengingatkan pentingnya mempersiapkan hati sebelum memasuki Ramadan. Ia mengajak umat Islam untuk menyambut 1 Ramadan yang ditetapkan pemerintah melalui sidang isbat pada 17 Februari dengan penuh rasa syukur, di antaranya dengan sujud syukur, memperbarui niat puasa setiap malam, dan memperbanyak doa.
Baca Juga : BPOM Meyakini Kemandirian Obat, Merupakan Kunci Ketahanan Nasional
Ia juga mengingatkan keutamaan Lailatul Qadar yang nilainya setara dengan ibadah lebih dari 1.000 bulan atau sekitar 83 tahun empat bulan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, BPOM menyerahkan santunan dan paket kebutuhan Ramadan kepada 300 pekerja pendukung, terdiri atas petugas kebersihan, satpam, sopir, dan pramusaji. Sejumlah penerima mengaku terharu atas perhatian yang diberikan pimpinan dalam forum resmi, yang bagi sebagian dari mereka menjadi pengalaman pertama mendapatkan apresiasi secara langsung menjelang Ramadan.












