Nusawarta.id, Yogyakarta – Rencana pemerintah menutup sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan ekonomi dan industri menuai kritik dari kalangan akademisi. Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, menilai kebijakan tersebut berpotensi mengabaikan peran strategis pendidikan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia menghadapi tantangan masa depan.
Dalam keterangannya di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026), Wisnu menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak semestinya diposisikan sebagai lembaga yang hanya bertugas memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri saat ini. Menurutnya, kampus memiliki fungsi yang lebih luas, yakni membentuk individu yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan menciptakan inovasi.
“Pendidikan tinggi bukanlah balai latihan kerja tambahan bagi industri. Menutup prodi hanya karena tidak sesuai dengan selera pasar hari ini adalah bentuk keputusan rabun jauh yang mengabaikan dinamika masa depan,” ujarnya.
Wisnu menilai orientasi pendidikan tinggi yang terlalu berfokus pada kebutuhan pasar berisiko menghilangkan fungsi dasar universitas sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan peradaban. Ia mengingatkan bahwa kampus seharusnya menjadi kompas yang mengarahkan perkembangan masyarakat, bukan sekadar mengikuti perubahan tren ekonomi jangka pendek.
Menurut dia, penggunaan logika pasar sebagai satu-satunya tolok ukur relevansi program studi dapat menghasilkan lulusan yang hanya siap menghadapi kebutuhan saat ini, namun kurang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan yang akan datang.
Baca Juga : Purbaya Pasang Target Agresif: Rupiah Didorong ke Level Rp15.000 per Dolar AS
“Jika kita terus memaksakan logika pasar sebagai satu-satunya ukuran relevansi, yang dihasilkan bukanlah generasi yang siap menghadapi masa depan, melainkan generasi yang dilatih untuk masa lalu,” katanya.
Wisnu juga menyoroti dampak kebijakan tersebut terhadap fungsi sosial dan politik perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa kampus merupakan ruang untuk memproduksi pengetahuan, kritik, dan refleksi yang diperlukan masyarakat dalam memahami sekaligus mengawal perubahan sosial.
Menurutnya, apabila keberhasilan pendidikan tinggi hanya diukur dari tingkat serapan kerja jangka pendek, maka bidang-bidang ilmu yang berkontribusi terhadap pembangunan jangka panjang, seperti kebudayaan, ilmu sosial, humaniora, dan riset dasar, berpotensi semakin terpinggirkan.
Padahal, lanjut dia, kemampuan suatu negara untuk bertahan di tengah disrupsi global tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan tenaga kerja, tetapi juga kapasitas masyarakat dalam berinovasi dan melakukan refleksi kritis terhadap perubahan yang terjadi.
Sebagai gambaran, Wisnu mengutip laporan McKinsey & Company yang memperkirakan hingga 30 persen aktivitas pekerjaan di dunia berpotensi diotomatisasi pada 2030. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa keterampilan teknis yang saat ini dianggap paling dibutuhkan belum tentu tetap relevan di masa depan.
Sebaliknya, keterampilan mendasar seperti kemampuan berpikir kritis, analisis, komunikasi, kerja sama tim, dan pemahaman sosial justru menjadi kompetensi yang memiliki daya tahan lebih panjang di tengah perubahan teknologi.
Baca Juga : Prabowo Kumpulkan Eks Gubernur BI, Serap Jurus Hadapi Krisis Ekonomi dan Jaga Rupiah
Ia juga merujuk data National Association of Colleges and Employers (NACE) yang secara konsisten menempatkan kemampuan pemecahan masalah, komunikasi, dan kerja sama sebagai kompetensi utama yang dicari pemberi kerja, melampaui keterampilan teknis tertentu.
“Justru keterampilan fundamental inilah yang diasah secara sistematis dalam ilmu dasar, humaniora, dan ilmu sosial, bidang-bidang yang kerap diposisikan sebagai prodi tidak laku,” ujar Wisnu.
Karena itu, ia meminta pemerintah mempertimbangkan secara matang dampak jangka panjang sebelum mengambil kebijakan penutupan program studi, agar pendidikan tinggi tetap mampu menjalankan perannya sebagai penghasil pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan zaman.


