Hadapi Bencana Cuaca Ekstrem, Pemkab HST Tingkatkan Langkah Antisipasi

  • Bagikan
Bencana Cuaca Ekstrem di Kab HST

Nusawarta.id, Barabai Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) terus meningkatkan langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometrologi akibat cuaca ekstrem khususnya banjir, seiring meningkatnya intensitas curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Upaya tersebut dilakukan guna meminimalkan risiko keselamatan masyarakat serta menekan kerugian material, mengingat kondisi geografis Kabupaten HST yang dilalui sejumlah sungai besar dan anak sungai.

Kepada awak media pada Selasa (16/12/2025), Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten HST, Ahmad Afandi mengatakan bahwa sepanjang tahun 2025 hingga saat ini, bencana cuaca ekstrem tersebut telah berdampak terhadap 10.949 kepala keluarga atau sekitar 28.090 jiwa, serta menyebabkan 10.286 unit pemukiman terdampak.

Berdasarkan pemetaan kerawanan bencana, terdapat sejumlah wilayah yang dinilai rawan terdampak banjir, terutama kawasan bantaran sungai dan dataran rendah. Kecamatan Barabai menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus karena kerap terdampak luapan Sungai Barabai serta keterbatasan sistem drainase perkotaan. Selain itu, Kecamatan Labuan Amas Utara dan Labuan Amas Selatan juga berpotensi mengalami banjir akibat luapan Sungai Batang Alai saat debit air meningkat.

Kerawanan serupa juga terdapat di Kecamatan Haruyan, Hantakan, Pandawan, Limpasu, serta Kecamatan Batang Alai Timur dan Batang Alai Barat. Sebagian wilayah di kecamatan tersebut berada di sepanjang aliran sungai dan rawan genangan saat hujan deras berkepanjangan. Kondisi ini diperparah oleh sedimentasi sungai serta alih fungsi lahan di wilayah hulu.

Ahmad Afandi menjelaskan, sepanjang tahun 2025 hingga saat ini telah terjadi sejumlah bencana banjir akibat cuaca ekstrem di Kabupaten HST. Pada 16 Januari 2025, banjir melanda Kecamatan Haruyan dan berdampak pada 4 desa. Selanjutnya, pada 26 Januari 2025, banjir kembali terjadi akibat intensitas hujan tinggi yang berdampak pada 5 kecamatan dan 15 desa. Pada 24 Februari 2025, genangan air kembali terjadi di Kecamatan Haruyan yang meliputi 3 desa.

Baca Juga  Debit Air Sungai di HST Meningkat, Warga Diimbau Waspada Banjir

Bencana banjir juga terjadi pada 28 April 2025 di dua kecamatan, yakni Kecamatan Pandawan dan Labuan Amas Utara, yang berdampak pada 8 desa. Kemudian, pada 24 Oktober 2025, banjir melanda Kecamatan Batu Benawa dan Pandawan dengan dampak pada 4 desa. Selanjutnya, pada 31 Oktober 2025, banjir kembali terjadi dan berdampak pada tiga kecamatan, yakni Batu Benawa, Pandawan, dan Barabai, meliputi 10 kelurahan/desa. Terakhir, pada 9 November 2025, banjir terjadi di empat kecamatan, yaitu Batu Benawa, Barabai, Pandawan, dan Labuan Amas Utara, dengan total 10 kelurahan/desa terdampak.

Baca juga: Pemkab HST Libatkan Warga dan Swasta, Susun Rencana Pengembangan MPP

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten HST bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi cuaca dan tinggi muka air sungai. Selain itu, masyarakat yang bermukim di wilayah rawan banjir diimbau untuk selalu waspada, sementara kesiapsiagaan aparat desa, relawan, dan masyarakat terus ditingkatkan melalui koordinasi kebencanaan, pembersihan saluran air, serta penyiapan jalur evakuasi apabila terjadi kondisi darurat.

Pemerintah daerah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan bencana dengan menjaga lingkungan, tidak membuang sampah ke sungai, serta segera melaporkan apabila terdapat tanda-tanda potensi banjir di wilayah masing-masing. Dengan langkah antisipasi yang terkoordinasi, diharapkan dampak bencana hidrometrologi di Kabupaten HST dapat ditekan dan kondisi daerah tetap aman serta kondusif. (Zak/Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *