Nusawarta.id, Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengajak para mahasiswa, khususnya mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI), untuk membaca tanda zaman dan mempersiapkan diri menghadapi dinamika global yang terus berubah.
Ajakan tersebut disampaikan Bima dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, saat menjadi pembicara kunci pada pembukaan Binus International Relations Festival (Birfest) 2025. Festival yang digelar di Universitas Binus Kampus Anggrek mengusung tema “The Age of Recalibration: Connecting Youth Across Borders”, dengan fokus pada peran generasi muda dalam menghadapi kompleksitas hubungan internasional.
Dalam sesi tersebut, Bima menyoroti kesamaan semangat antara dirinya dan para mahasiswa HI. Ia mengisahkan perjalanan studinya di jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan hingga berkarier sebagai dosen, kemudian Wali Kota Bogor, sebelum akhirnya menjabat sebagai Wamendagri.
Bima menekankan bahwa setiap keputusan hidup dipengaruhi oleh informasi dan konteks zamannya. Ia merujuk pada teori dalam buku klasik World Politics: The Menu for Choice, yang populer di kalangan mahasiswa HI, bahwa dunia selalu menawarkan beragam skenario dan pilihan.
“Dunia adalah menu for choice. Tergantung informasi dan ideologi apa yang kita punya, akhirnya kita memutuskan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wamendagri menyoroti bagaimana perubahan global turut membentuk ulang pilihan geopolitik. Ia menjelaskan bahwa jika pada era Perang Dingin dunia hanya menawarkan dua blok kekuatan, saat ini muncul banyak aktor baru, isu-isu semakin kompleks, dan dinamika global sulit diprediksi. Fenomena ini, menurut Bima, sejalan dengan konsep yang dikemukakan Michiko Kakutani dalam The Great Wave, yakni bangkitnya para “outsider” dalam percaturan global.
Bima juga menyoroti dinamika politik global yang mencerminkan pergeseran paradigma kepemimpinan. Ia menyinggung perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat, terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York, hingga munculnya Rob Jetten sebagai Perdana Menteri Belanda termuda. Menurutnya, masyarakat kini menilai kandidat berdasarkan program dan tindakan konkret, bukan sekadar usia.
“Zohran menawarkan the real thing, biaya sewa apartemen murah, transportasi terjangkau, dan biaya hidup yang realistis,” ujar Bima.
Konteks global tersebut ia kaitkan dengan tantangan Indonesia menghadapi bonus demografi yang didominasi generasi muda. Bima menegaskan bahwa dua dekade ke depan menjadi periode krusial bagi negara, khususnya untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah.
“Bayangkan waktu saya seusia kalian, negara maju terasa jauh. Today, it is so close. Dalam 20 tahun, kalau kita berhasil memanfaatkan bonus demografi dan keluar dari jebakan kelas menengah, Indonesia bisa menjadi salah satu lima ekonomi terbesar di dunia,” ujarnya optimistis.
Selain itu, Bima menekankan dua konsep penting yang wajib dipahami mahasiswa HI. Pertama, the logic of two-level games dari Robert D. Putnam, yang menjelaskan bahwa diplomat harus mampu memainkan peran di panggung internasional sekaligus domestik agar kebijakan luar negeri efektif. Kedua, the prisoner’s dilemma dalam teori permainan, yang membantu memahami strategi aktor lain di bawah tekanan serta pengambilan keputusan melalui kalkulasi risiko.
Baca Juga : Wamendagri Bima Arya Ajak Pemda Responsif Hadapi Tantangan Perubahan Iklim
“Keuntungan menjadi mahasiswa Hubungan Internasional adalah kekuatan logika. Teori-teori ini melatih kita berpikir sistematis dan terstruktur. Itulah yang membuat saya cinta ilmu HI,” tambah Bima.
Wamendagri juga menekankan pentingnya membangun jejaring yang positif. Ia mengajak mahasiswa menjauhi pergaulan yang toksik, memiliki jiwa aktivis, wawasan global, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai nasionalisme.
“Pemimpin selalu berada dalam orbit pemimpin. Masa depan itu disiapkan, bukan dinantikan. Jangan buang waktu dengan teman yang negatif, waktu itu cepat sekali berlalu,” tutupnya.
Dengan pesannya, Bima Arya menegaskan bahwa mahasiswa HI memiliki peluang besar untuk menjadi generasi pemimpin yang mampu membaca tanda zaman dan beradaptasi dalam menghadapi perubahan global yang cepat.












