Nusawarta.id, Jakarta – Pemadaman listrik secara massal yang melumpuhkan berbagai aktivitas di Pulau Bali pada Jumat (2/5/2025) mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak.
Direktur Eksekutif Daulat Energy, Ridwan Hanafi turut memberikan komentar atas insiden pemadaman listrik atau blackout yang disinyalir akibat gangguan pada kabel bawah laut itu.
Dalam keterangannya, Ridwan Hanafi mendesak agar situasi serius ini disikapi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan segera membentuk tim independen guna melakukan audit menyeluruh.
“Kami mendesak ESDM segera membentuk tim independen yang profesional dan tidak memiliki afiliasi langsung dengan PLN atau subkontraktor terkait, untuk melakukan investigasi forensik teknis dan manajerial atas insiden ini,” kata Ridwan, Sabtu (3/5/2024).
Ridwan menekankan agar audit tidak sekedar berfokus pada aspek teknis seperti kerusakan kabel, namun juga menelisik lebih dalam aspek tata kelola, pengawasan proyek, pemeliharaan infrastruktur kelistrikan, serta prosedur mitigasi risiko yang diterapkan.
Baca juga: Hari ini, Prabowo akan Resmikan 26 Proyek Pembangkit Listrik Secara Serentak, Berikut Daftarnya
Kendati sebelumnya Humas PLN UID Bali, Anom Silaparta, menyampaikan bahwa pemadaman terjadi akibat gangguan kabel laut Jawa-Bali yang membuat seluruh pembangkit di subsistem Bali lepas dari sistem.
Namun hingga hingga kini, belum ada penjelasan lebih rinci mengenai akar masalah dari peristiwa itu
Ridwan pun mempertanyakan sejauh mana fail-safe system atau sistem mekanisme cadangan kelistrikan Bali dalam mencegah pemadaman total yang terjadi.
Menurutnya, blackout ini menandakan adanya kelemahan struktural dalam desain dan pemeliharaan jaringan.
“Tidak masuk akal bahwa satu titik kegagalan di kabel bawah laut bisa menyebabkan pemadaman total di satu provinsi. Ini indikasi sistem yang rentan, tidak redundan, dan mungkin pengawasan terhadap infrastruktur kritis terlalu lemah,” ujar Ridwan.
Pihaknya juga meminta agar hasil audit oleh tim independen disampaikan secara transparan pada publik demi perbaikan sistemik, termasuk perencanaan cadangan energi, peningkatan kapasitas lokal, serta penataan ulang manajemen risiko kelistrikan daerah wisata strategis seperti Bali.
Dalam jangka panjang, Daulat Energy mendorong pemerintah mengevaluasi ketergantungan Bali terhadap transfer energi dari Jawa.
Ia menilai alternatif seperti pembangunan pembangkit energi terbarukan lokal dan penyimpanan energi atau energy storage harus menjadi prioritas.
Baca juga: Sukseskan Keandalan Listrik di Kalimantan, PLN Gandeng Masyarakat Adat Dayak
“Pulau Bali adalah etalase pariwisata dunia. Gangguan seperti ini bukan hanya merugikan secara ekonomi, tapi juga mencoreng reputasi Indonesia. Kita tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada sistem lama tanpa modernisasi,” pungkas Ridwan.
Diketahui sebelumnya gangguan listrik yang mulai terjadi sekitar pukul 16.00 WITA di Bali mengakibatkan terhentinya operasional kantor dan bisnis, hingga kemacetan parah akibat padamnya lampu lalu lintas.
Sejumlah rumah sakit dan fasilitas vital lainnya terpaksa beralih sumber daya cadangan (genset) akibat peristiwa ini. (Dyt/Red)












