Nusawarta.id, Jakarta – Fenomena pengemis musiman yang melibatkan anak-anak menjelang Hari Raya Idul Fitri kembali menjadi perhatian serius berbagai pihak. Praktik yang kerap muncul di sejumlah kota besar ini dinilai tidak hanya sebagai persoalan ketertiban umum, tetapi juga menyangkut eksploitasi anak dan masalah sosial yang lebih mendasar.
Ketua Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) Majelis Ulama Indonesia, Siti Ma’rifah, mengimbau pemerintah untuk mengambil langkah preventif yang lebih komprehensif dalam menangani persoalan tersebut. Menurutnya, penanganan fenomena pengemis musiman tidak cukup hanya melalui operasi penertiban di lapangan, tetapi harus dibarengi dengan pendekatan pembinaan mental dan upaya pengentasan kemiskinan.
Puteri Wakil Presiden ke-13 RI itu menegaskan bahwa pendidikan mental kepada anak menjadi kunci penting agar mereka tidak terbiasa dengan praktik meminta-minta. Ia menilai anak-anak perlu dibentuk dengan nilai kemandirian serta dorongan untuk menjadi pribadi yang memberi kepada sesama.
“Selain melakukan langkah-langkah penertiban, tetapi juga langkah-langkah preventifnya. Jadi secara mental bagaimana kita mengajarkan anak untuk menjadi orang yang tangan di atas,” ujar Siti Ma’rifah sebagaimana dilaporkan MUI Digital di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, konsep “tangan di atas” sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk bekerja keras, hidup mandiri, dan berbagi dengan orang lain. Oleh karena itu, nilai tersebut harus ditanamkan sejak dini, baik melalui pendidikan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Namun demikian, Siti Ma’rifah menekankan bahwa fenomena pengemis musiman tidak bisa dilepaskan dari faktor struktural, terutama kemiskinan. Ia menilai persoalan ekonomi menjadi akar masalah yang membuat praktik tersebut terus berulang setiap tahun, khususnya menjelang hari-hari besar keagamaan.
“Kalau akar masalahnya tidak diselesaikan, fenomena ini akan terus terulang. Jadi baik mentalitas maupun akar masalah kemiskinannya harus diselesaikan bersama,” katanya.
Ia juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi anak-anak yang kerap dijadikan alat untuk menarik simpati masyarakat di jalanan. Dalam banyak kasus, anak-anak tersebut tidak memiliki pilihan dan hanya menjadi korban eksploitasi orang dewasa.
Karena itu, Siti Ma’rifah mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada operasi penertiban, tetapi juga memberikan pembinaan serta perlindungan kepada anak-anak yang terlibat. Ia menilai pendekatan lintas sektoral sangat diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara berkelanjutan.
Baca Juga : Musda XI MUI Kalsel Digelar di HSS, Tekankan Peran Ulama untuk Kemakmuran Banua
Pendekatan tersebut mencakup kerja sama antara pemerintah daerah, lembaga sosial, lembaga pendidikan, hingga organisasi keagamaan. Dengan kolaborasi tersebut, diharapkan anak-anak yang rentan dapat memperoleh perlindungan, akses pendidikan, serta kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Menurutnya, momentum Ramadan dan menjelang Idul Fitri seharusnya menjadi waktu untuk memperkuat solidaritas sosial secara bermartabat. Ia berharap dengan langkah preventif, pembinaan, serta program pengentasan kemiskinan yang terintegrasi, praktik eksploitasi anak melalui fenomena pengemis musiman dapat ditekan dan tidak lagi menjadi pemandangan rutin menjelang hari raya.












