Nusawarta.id, Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyoroti data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang mencatat lebih dari dua juta anak di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka tersebut setara dengan sekitar 10 persen dari total 20 juta jiwa yang mengikuti pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang digelar Kemenkes.
Netty menilai temuan tersebut merupakan peringatan serius bagi seluruh pihak untuk memberi perhatian lebih terhadap kesehatan mental anak dan remaja.
“Angka ini bukan sekadar data statistik, tetapi sinyal darurat sosial yang harus kita tanggapi bersama. Anak-anak yang mengalami tekanan mental adalah generasi masa depan bangsa. Jika tidak segera ditangani, kita berisiko kehilangan potensi besar mereka,” ujar Netty dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
Politisi Fraksi PKS itu mengapresiasi langkah Kemenkes yang membuka data secara transparan dan menyediakan layanan konseling daring guna membantu masyarakat mengakses dukungan psikologis secara mudah dan anonim. Namun, ia menilai upaya tersebut perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih sistematis dan menjangkau wilayah pelosok.
Baca Juga : Khozin: Label ‘Kota Hantu’ Harus Dijawab dengan Aksi, Bukan Reaksi
“Layanan daring sangat membantu, tetapi belum semua anak memiliki akses internet. Pemerintah perlu memperkuat layanan konseling di sekolah, puskesmas, dan komunitas agar lebih inklusif,” kata Netty.
Selain itu, Netty mendorong Kemenkes untuk memberikan penjelasan lebih rinci terkait cakupan dan validitas data agar publik memahami konteksnya secara utuh. Menurutnya, transparansi data akan memperkuat upaya perancangan program pencegahan dan pendampingan anak secara efektif.
“Anak-anak sekarang hidup di era tekanan digital dan ekspektasi sosial yang tinggi. Kita perlu membangun budaya komunikasi yang hangat di keluarga dan sekolah agar anak merasa aman untuk bercerita dan meminta bantuan,” jelasnya.
Netty juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan keluarga sebagai benteng pertama kesehatan mental anak.
“Keluarga yang memiliki ketahanan fisik, ekonomi, sosial-budaya, dan psikologis-spiritual tentu menjadi bagian dari solusi gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja,” pungkasnya.
Data Kemenkes: Dua Juta Anak Alami Gangguan Mental
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang telah menjangkau sekitar 20 juta jiwa, terdapat lebih dari dua juta anak yang teridentifikasi mengalami gangguan mental.
“Dari laporan yang kami terima, terdapat lebih dari dua juta anak yang mengalami gangguan kesehatan mental,” kata Dante dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/10/2025).
Menanggapi temuan tersebut, Kemenkes meluncurkan layanan konseling daring healing119.id, yang dapat diakses masyarakat secara gratis dan anonim. Layanan ini ditujukan bagi individu yang mengalami stres, depresi, atau memiliki kecenderungan bunuh diri.
Wamenkes Dante menjelaskan, platform ini menyediakan ruang curhat virtual yang didampingi psikolog sosial dan klinis selama 24 jam.
“Dalam waktu hanya tiga bulan, platform ini telah dikunjungi lebih dari 45 ribu pengguna. Ini langkah kecil, tetapi berarti besar bagi upaya penyembuhan jiwa bangsa,” ujarnya.
Dante menegaskan, stres dan tantangan kesehatan mental adalah bagian dari kehidupan modern yang harus dihadapi dengan dukungan sosial dan layanan kesehatan jiwa yang memadai












