Nusawarta.id, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menambah kuota produksi batu bara yang dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan operasional pembangkit listrik milik PT PLN (Persero). Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan kecukupan pasokan energi primer sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan tambahan produksi batu bara hanya diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan PLN. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangkit listrik dan produksi batu bara nasional.
“Untuk yang batu bara, tambahannya hanya diperuntukkan untuk yang PLN,” ujar Tri Winarno di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Menurut Tri, pemerintah berupaya memastikan pasokan batu bara bagi sektor ketenagalistrikan tetap aman tanpa menciptakan kelebihan pasokan di pasar. Karena itu, kebijakan penambahan produksi dilakukan secara terukur sesuai kebutuhan dalam negeri.
Baca Juga : Polda Metro Jaya Telusuri Asal-usul Aset dan Uang Sitaan
Ia menegaskan pemerintah tidak ingin pembatasan produksi justru mengganggu operasional pembangkit listrik akibat kekurangan pasokan batu bara. Di sisi lain, pemerintah juga tidak menginginkan kondisi oversupply yang dapat memengaruhi stabilitas industri pertambangan.
“Untuk mengejar kebutuhan dalam negeri, tapi jangan sampai ada oversupply. Itu saja,” katanya.
Meski demikian, pemerintah tetap membuka kesempatan bagi perusahaan tambang yang ingin mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Pengajuan revisi masih dapat dilakukan hingga 31 Juli 2026.
“Silakan masukkan revisi RKAB,” ujar Tri.
Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, memastikan sistem kelistrikan di Pulau Jawa kini berada dalam kondisi yang lebih andal sehingga tidak akan terjadi lagi pemadaman listrik seperti yang sempat dialami sebelumnya.
Untuk memperkuat keandalan pasokan listrik dalam jangka pendek, PLN telah memperoleh tambahan pasokan batu bara dengan nilai kalori di atas 4.500 kilokalori per kilogram.
“Juli ini ada tambahan 1,8 juta ton, kemudian Agustus sampai Desember ada tambahan sekitar 3 juta ton dari existing,” kata Darmawan.
Selain mengamankan pasokan bahan bakar, PLN juga menyiapkan langkah jangka panjang melalui program modifikasi atau retrofit pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Upaya tersebut bertujuan agar pembangkit dapat menggunakan batu bara dengan nilai kalori yang lebih rendah tanpa mengurangi keandalan operasional.
Menurut Darmawan, strategi tersebut akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam pemanfaatan batu bara domestik sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan kemampuan menggunakan batu bara berkalori rendah, ketergantungan terhadap batu bara berkualitas tinggi dapat dikurangi.
Keberhasilan program retrofit telah dibuktikan pada PLTU Suralaya Unit 6 dan Unit 7. Kedua pembangkit tersebut kini mampu menggunakan batu bara dengan nilai kalori sekitar 4.100 hingga 4.300 kilokalori per kilogram, lebih rendah dibandingkan spesifikasi awal yang mensyaratkan batu bara dengan kalori 4.600 hingga 4.800 kilokalori per kilogram.
Kebijakan penambahan kuota produksi batu bara yang dipadukan dengan peningkatan fleksibilitas teknologi pembangkit diharapkan mampu menjaga keandalan pasokan listrik nasional, sekaligus memastikan kebutuhan energi sektor kelistrikan tetap terpenuhi di tengah dinamika pasokan batu bara domestik.












