Nusawarta.id, Jakarta – Menjelang Ramadan dan Idulfitri, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menegaskan pentingnya konsolidasi dan koordinasi antarinstansi guna mengendalikan inflasi serta menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Tomsi Tohir meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama kementerian dan lembaga terkait untuk mengantisipasi lonjakan harga akibat meningkatnya permintaan selama bulan puasa.
“Saya berharap kepada Bapak/Ibu sekalian untuk lebih memperkuat konsolidasi, terutama tim TPID dan teman-teman dari kementerian dan lembaga. Kita harus mulai berhitung dan mempersiapkan segala sesuatunya hingga hari raya,” ujar Tomsi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Senin (10/2/2025).
Tomsi menekankan bahwa inflasi selama Ramadan umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan saat Lebaran. Oleh karena itu, ia meminta adanya langkah konkret yang berdasarkan analisis situasi terkini agar kenaikan harga bisa diantisipasi lebih awal.
“Kami berharap ada langkah-langkah konkret yang dilakukan dengan membaca situasi saat ini, sehingga kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengendalian inflasi harus dilakukan secara proaktif, terutama untuk komoditas yang selalu mengalami kenaikan harga setiap tahunnya. Dengan langkah yang lebih cepat dan terencana, TPID diharapkan dapat semakin efektif dalam menjaga stabilitas harga di tahun-tahun mendatang.
Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa inflasi pada Ramadan cenderung lebih tinggi dibandingkan saat Lebaran. Lonjakan permintaan, terutama pada kelompok makanan dan minuman, menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga.
“Berdasarkan pengalaman tahun lalu, saat awal Ramadan di bulan Maret 2024, inflasi di sektor makanan, minuman, dan tembakau mencapai 0,41 persen. Namun setelah Lebaran di bulan April, tekanannya mulai berkurang,” paparnya.
Beberapa komoditas yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih, yang mengalami kenaikan harga signifikan selama Ramadan tahun lalu.
“Permintaan pada Ramadan memang lebih besar dibandingkan dengan saat Lebaran, sehingga tekanan inflasi lebih tinggi pada bulan puasa,” tambahnya.
Selain perwakilan dari BPS, rapat tersebut juga dihadiri Deputi III Bidang Perekonomian dan Pangan Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa, serta sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kejaksaan Agung, Bulog, Polri, dan TNI.
Rakor ini juga diikuti secara virtual oleh pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, mengingat peran aktif daerah sangat krusial dalam memastikan pengendalian inflasi berjalan efektif. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan stabilitas harga dapat terjaga, sehingga masyarakat bisa menjalani ibadah Ramadan dengan lebih tenang. (Faza/Red)












