Komisi IX DPR Minta Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Nasional Terkait Kasus Super Flu

  • Bagikan
Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi. (Foto: DPR RI/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, menegaskan bahwa kasus superflu yang belakangan dikabarkan telah memakan korban jiwa tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk meningkatkan kewaspadaan secara nasional guna mencegah potensi penyebaran yang lebih luas.

Menurut Nurhadi, pemerintah harus bersikap proaktif dengan memperkuat berbagai aspek penanganan, mulai dari pengawasan hingga kesiapan fasilitas kesehatan. Hal ini dinilai penting mengingat kelompok rentan, seperti lanjut usia dan pasien dengan penyakit penyerta, berpotensi mengalami dampak yang lebih serius.

“Isu ini tidak boleh dianggap ringan. Komisi IX DPR RI mendorong agar Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan nasional, khususnya dalam hal penguatan surveilans epidemiologi, deteksi dini, serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan pasien dengan penyakit penyerta,” kata Nurhadi, Sabtu (10/1/2026).

Selain penguatan di sektor layanan kesehatan, Nurhadi juga menekankan pentingnya keterbukaan informasi kepada publik. Ia meminta pemerintah menyampaikan perkembangan situasi secara akurat, terukur, dan bertanggung jawab agar masyarakat tidak panik, namun tetap waspada terhadap potensi risiko kesehatan.

Baca Juga : Indonesia Kekurangan 70 Ribu Dokter Spesialis, Kemenkes Siapkan Akselerasi Pendidikan Berbasis Rumah Sakit

“Pemerintah harus mampu menyampaikan informasi yang jelas dan berbasis data. Tujuannya bukan untuk menimbulkan ketakutan, tetapi membangun kesadaran kolektif bahwa pencegahan adalah kunci,” ujarnya.

Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat mengenai penerapan pola hidup bersih dan sehat harus terus digencarkan. Termasuk di dalamnya kebiasaan menggunakan masker saat sakit, menjaga kebersihan tangan, serta memberikan perlindungan ekstra bagi kelompok berisiko tinggi.

“Edukasi publik mengenai pola hidup bersih dan sehat, penggunaan masker saat sakit, serta perlindungan bagi kelompok berisiko tinggi harus terus diperkuat,” tutur Nurhadi.

Baca Juga  Indonesia Kekurangan 70 Ribu Dokter Spesialis, Kemenkes Siapkan Akselerasi Pendidikan Berbasis Rumah Sakit

Lebih lanjut, Nurhadi menegaskan Komisi IX DPR RI akan terus menjalankan fungsi pengawasan dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Kesehatan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh upaya penanganan dilakukan secara cepat, tepat, dan berbasis data ilmiah.

“Prinsip kami jelas, negara harus hadir melindungi kesehatan masyarakat, tanpa menimbulkan keresahan, namun juga tanpa mengabaikan potensi risiko yang ada,” tegasnya.

Sebelumnya, seorang pasien dengan gejala influenza A H3N2 subclade K atau yang dikenal sebagai super flu dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Hingga saat ini, RSHS tercatat telah menangani sekitar 10 pasien dengan gejala serupa.

Baca Juga : Anggota DPR Minta Pemerintah Percepat Penyediaan Obat dan Peralatan Medis bagi Pengungsi Banjir dan Longsor di Sumatera

Namun demikian, pihak rumah sakit menyatakan belum dapat memastikan apakah kematian pasien tersebut disebabkan langsung oleh infeksi super flu. Pasien diketahui memiliki riwayat penyakit bawaan atau komorbid yang tergolong berat, sehingga memperburuk kondisi kesehatannya.

“Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high care dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain,” ujar anggota Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS, dr Yovita Hartantri, Jumat (9/1/2025).

Dr Yovita menjelaskan, pasien yang meninggal tersebut memiliki sejumlah penyakit penyerta yang signifikan. Kondisi tersebut dinilai berperan besar dalam menurunkan daya tahan tubuh pasien terhadap infeksi.

“Ada stroke, ada gagal jantung, dan terakhir karena ada infeksi serta gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan, karena memang dia memiliki banyak komorbid,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *