BPOM Gelar Pekan Jamu 2026, Dorong Herbal Indonesia Tembus Pasar Global

  • Bagikan
Kepala BPOM Taruna Ikrar (depan) dalam konferensi pers "Kick Off Pekan Jamu 2026" di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa (2/6/2026). (Foto: Antara/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar Pekan Jamu 2026 mulai 2 hingga 7 Juni 2026 sebagai upaya memperkenalkan sekaligus memperkuat potensi industri jamu nasional agar mampu bersaing di pasar global.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas herbal yang sangat besar dan menjadi modal utama dalam pengembangan industri kesehatan berbasis bahan alam.

“Indonesia memiliki sekitar 75 persen keanekaragaman hayati herbal dunia, menunjukkan besarnya potensi kekayaan alam nasional. Kekayaan tersebut tidak hanya berupa bahan baku tanaman obat, tetapi juga budaya jamu yang telah diwariskan turun-temurun dan dimanfaatkan untuk kesehatan masyarakat,” ujar Taruna di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, Pekan Jamu 2026 menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa jamu tidak hanya dikenal sebagai minuman tradisional, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi beragam produk bernilai ekonomi tinggi dan berorientasi ekspor.

Baca Juga : Aher Dukung Sanksi Blacklist bagi Pelaku Politik Uang dalam Revisi UU Pemilu

Taruna menilai, pemanfaatan jamu perlu terus diperkuat melalui dukungan masyarakat terhadap produk-produk herbal dalam negeri. Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, jamu juga menjadi bagian dari warisan kesehatan Nusantara sejak masa kerajaan.

“Secara historis, pada masa kerajaan, jamu merupakan minuman kesehatan yang disajikan bagi raja, keluarga kerajaan, dan tamu-tamu penting. Kata ‘jamu’ sendiri dianggap memiliki makna yang luhur dan agung,” katanya.

BPOM juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah dalam mengembangkan industri jamu nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia yang belum sepenuhnya dieksplorasi menjadi produk fitofarmaka atau obat berbahan alam.

Taruna menyebutkan, berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional, Indonesia memiliki sekitar 30 ribu hingga 31 ribu spesies biodiversitas dari total sekitar 40 ribu spesies dunia. Kekayaan tersebut terbentuk dari perpaduan flora Asia dan Australia serta proses evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun.

Baca Juga  Wamenekraf Tekankan Pentingnya Lestarikan Jamu di Penutupan Festival Jamu Nusantara

“Kekayaan biodiversitas Indonesia menjadi fondasi penting dalam pengembangan industri herbal dan jamu nasional. Potensi ekonominya sangat besar apabila dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.

Baca Juga : Megawati Hadiri Upacara Harlah Pancasila yang Dipimpin Prabowo di Gedung Pancasila

Saat ini, nilai ekonomi industri jamu nasional tercatat mencapai sekitar Rp1,2 triliun. Namun, BPOM memperkirakan potensi pasar global industri kesehatan berbasis herbal dapat mencapai sekitar Rp350 triliun bagi Indonesia jika kekayaan biodiversitas nasional mampu dikembangkan secara maksimal.

Melalui Pekan Jamu 2026, BPOM berharap industri jamu Indonesia semakin berkembang, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi baru yang mampu meningkatkan daya saing produk kesehatan Indonesia di tingkat internasional.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *