Zulkifli Hasan Soroti Kreativitas Santri, Dinilai Mampu Ubah Masalah Jadi Peluang Ekonomi

  • Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kanan) saat hadir dalam AISNU Podcast bersama Koordinator Nasional Arus Informasi Santri Nusantara (AIS Nusantara) masa khidmat 2024–2027, Ulinnuha Lazulfa atau Gus Ulinnuha, dalam rangkaian Bazar Expo Kesenian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Jumat (28/8/2026).(Foto: dok. Muktamar NU/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jombang – Kreativitas santri dinilai tidak lagi terbatas pada ruang pendidikan keagamaan, tetapi mulai berkembang ke bidang inovasi, literasi digital hingga penyelesaian persoalan ekonomi masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai potensi tersebut menjadi modal penting bagi masa depan Indonesia. Ia menyampaikan hal itu saat hadir dalam AISNU Podcast bersama Koordinator Nasional Arus Informasi Santri Nusantara (AIS Nusantara) masa khidmat 2024–2027, Ulinnuha Lazulfa atau Gus Ulinnuha, dalam rangkaian Bazar Expo Kesenian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Jumat (28/8/2026).

Zulkifli secara khusus menyoroti inovasi santri dan anak muda di Krapyak, Yogyakarta, dalam mengelola sampah hingga menerapkan konsep zero waste. Menurutnya, persoalan yang sebelumnya membutuhkan biaya justru dapat diubah menjadi aktivitas yang menghasilkan surplus ekonomi.

“Saya lihat masa depan kita cerah, dengan adanya AISNU. Anak-anak muda yang kreatif, berpikir jauh ke depan,” ujar Zulkifli Hasan.

Baca Juga : Prabowo Minta Babinsa Edukasi Warga soal Bahaya Karhutla

Menurut Zulkifli, kemampuan menyelesaikan persoalan dari lingkungan sekitar menunjukkan santri memiliki potensi sebagai inovator. Mereka tidak hanya berperan dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga mampu menghadirkan solusi praktis bagi persoalan masyarakat.

Gus Ulinnuha menjelaskan, inovasi pengelolaan sampah tersebut bahkan berhasil mengubah beban biaya menjadi peluang ekonomi.

“Dulu mereka satu hari mengeluarkan Rp1 juta, sekarang malah surplus,” ungkapnya.

Zulkifli menilai pengalaman tersebut membuktikan solusi pembangunan tidak selalu harus datang dari pemerintah pusat. Masyarakat di daerah dapat mengembangkan model sesuai dengan persoalan yang dihadapi di lingkungannya masing-masing.

Ia bahkan berencana mengundang perwakilan AIS Nusantara untuk mempresentasikan inovasi tersebut di kantornya agar dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

Baca Juga  Gus Yahya Kembali Maju di Muktamar ke-35 NU

“Saya tidak mengira anak muda Krapyak Jogja bisa menyelesaikan di lingkungannya sendiri. Nanti kita mengundang sebagai model. Banyak yang bisa menyelesaikan di tempat masing-masing, bahkan menghasilkan sesuatu,” katanya.

Baca Juga : Gus Hans Minta AHWA Pilih Ketum PBNU Secara Independen Tanpa Intervensi

Selain inovasi, Zulkifli mengapresiasi aktivitas AIS Nusantara di ruang digital. Menurutnya, pemanfaatan ruang digital dapat memperkuat literasi sekaligus memperluas silaturahmi generasi muda.

“Dengan adanya AISNU dan bazar-bazar di sini, juga muktamar, kuat kesatuannya, kuat silaturahminya, kuat literasinya. Insya Allah kebangkitan Islam akan lahir di Nusantara,” ujarnya.

Zulkifli menilai kemampuan generasi santri menggabungkan kreativitas, teknologi digital dan penyelesaian persoalan lokal menjadi salah satu alasan untuk optimistis terhadap masa depan Indonesia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *