Karhutla Kepung Kalimantan, Kasus ISPA di Kalbar Tembus 165 Ribu

  • Bagikan
Personel Manggala Agni Daops Pekanbaru yang kelelahan membasuh muka dengan air saat berupaya memadamkan kebakaran lahan di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Senin (24/8/2026). (Foto: Antara/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan tak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga memicu persoalan serius terhadap kesehatan masyarakat. Kepungan asap akibat karhutla dilaporkan telah menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernapasan di sejumlah wilayah.

Kalimantan Barat menjadi daerah dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi. Data Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 165.747 kasus ISPA terjadi di wilayah tersebut selama periode 1 Januari hingga 7 Agustus 2026.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Agus Jamaludin, mengatakan penurunan kualitas udara akibat paparan asap karhutla menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat.

“Akibat kejadian kebakaran hutan dan lahan, beberapa provinsi menetapkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan, seperti Kalimantan Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan,” ujar Agus di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga : RUU Perampasan Aset Dikebut, Komisi III Targetkan Disahkan Desember 2026

Selain Kalbar, dampak kesehatan juga terjadi di Kalimantan Selatan. Kemenkes mencatat sebanyak 18.423 kasus ISPA di provinsi tersebut. Sejumlah penyakit lain juga ditemukan, antara lain 4.107 kasus diare akut, 1.232 kasus pneumonia, 1.175 kasus suspek demam tifoid, serta 761 kasus influenza-like illness atau ILI.

Sementara di Kalimantan Tengah, tercatat sebanyak 3.003 kasus ISPA. Kondisi di wilayah tersebut turut diperburuk dengan kualitas udara di sejumlah daerah yang masuk kategori sangat tidak sehat.

Dampak karhutla dilaporkan telah menjangkau sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Sebaran daerah terdampak meliputi 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat, 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, serta 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

Situasi ini menunjukkan bahwa karhutla tidak lagi hanya menjadi persoalan kerusakan lingkungan dan hilangnya kawasan hutan. Asap yang terus menyelimuti sejumlah wilayah turut membawa ancaman terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.

Baca Juga : Lasarus Batalkan Uji Coba Pemadaman Mobil Listrik usai Dengar Ada Risiko Ledakan

Pemerintah pun dihadapkan pada dua tantangan sekaligus, yakni mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan serta memastikan masyarakat terlindungi dari dampak buruk paparan asap yang dapat memicu berbagai penyakit.

Baca Juga  Judi Online Dominasi Pelanggaran, Kemenkomdigi Hapus Jutaan Konten Negatif
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *