Ketua Umum MUI Kritik Minimnya Kemandirian Bangsa, Serukan Peran Lebih Besar Ulama di Bidang Ekonomi dan Politik

  • Bagikan
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar dalam kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI di Jakarta, Kamis (20/11/2025). (Foto: MUI/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, menyampaikan kritik tajam terkait minimnya kemandirian bangsa dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI di Jakarta, Kamis (20/11). Ia menegaskan bahwa upaya membangun bangsa yang mandiri bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab moral ulama dan kalangan cendekiawan, terutama dalam sektor ekonomi dan politik.

Dalam pidatonya, Anwar menyoroti kenyataan bahwa cita-cita kemandirian nasional masih jauh dari harapan. Karena itu, menurutnya, perjuangan ulama tidak lagi cukup hanya berkutat pada mimbar keagamaan, melainkan harus memperkuat fondasi strategis negara.

“Ulama perlu mengambil peran agar negara dan bangsa ini benar-benar menjadi negara mandiri. Karena memang kita rasakan dan kita lihat, itu semuanya belum menjadi kenyataan,” ujarnya dengan nada kritis.

Anwar memberikan perhatian khusus pada sektor ekonomi sebagai titik lemah yang harus diperbaiki bersama. Menurutnya, banyak kewajiban ibadah dalam Islam, seperti zakat dan haji, mensyaratkan kemampuan finansial. Karena itu, berbicara mengenai kesejahteraan umat tanpa memperkuat ekonomi dinilainya sebagai hal sia-sia.

Baca Juga : MUI Soroti Tarekat Menyimpang, Tegaskan Pentingnya Prinsip Tarekat Muktabaroh

“Omong kosong kita bicara soal kesejahteraan umat tanpa ada sinergitas yang utuh antara kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri kita, terutama kekuatan yang berada dalam bisnis dan ekonomi,” tegasnya.

Seruan ini menjadi pengingat keras bagi seluruh peserta Munas XI yang mengusung tema “Meneguhkan Peran Ulama Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Rakyat.” Anwar menekankan pentingnya kolaborasi antara ulama, intelektual, dan praktisi bisnis sebagai kunci utama penguatan ekonomi nasional.

Untuk menguatkan pandangannya, Anwar merujuk pada sejarah Rasulullah SAW yang dikenal bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga figur yang unggul dalam dunia perdagangan. Kemandirian finansial, ujar Anwar, merupakan nilai penting yang diajarkan Nabi kepada umatnya.

Baca Juga  Hasto Kritik Kondisi Ekonomi, Singgung Rupiah Melemah hingga Utang Pemerintah

“Hidup sejahtera dan kuat secara ekonomi merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Itu maknanya adalah umat Islam harus kuat di bidang ekonomi, dan baru setelah itu kita akan bersama-sama sejahtera,” paparnya.

Menutup pidatonya, Anwar mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun sinergi lintas sektor. Ia berharap Munas XI MUI tidak berhenti pada seremoni semata, tetapi menghasilkan gagasan konkret demi kemajuan umat dan negara.

Baca Juga : Hari Santri, MUI : Peran Santri Hadapi Tantangan Bangsa

“Kemandirian bangsa ini tidak serta-merta menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga harus kita tanamkan dalam jiwa kita semuanya bahwa ulama, para intelektual, para cendekiawan juga harus merasa memiliki tanggung jawab,” ujarnya.

Anwar optimistis, sinergi yang kuat antara ulama, akademisi, dan pelaku ekonomi dapat mengantarkan Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur—negeri yang makmur dan diridai Tuhan—dengan kemandirian bangsa sebagai fondasi utamanya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *