Nusawarta.id, Jawa Timur – Upaya memperkuat kemandirian ekonomi pesantren di Jawa Timur terus digencarkan melalui kegiatan Penyuluhan Perkoperasian bagi Pondok Pesantren yang digelar pada Rabu (25/2/2026) di Telaga Shanaya Restaurant, Kota Malang. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta dari 25 pondok pesantren se-Jawa Timur dan menjadi bagian penting dalam penguatan kelembagaan guna mendukung gerakan One Pesantren One Product (OPOP) Jatim.
Sejak pagi hari, peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten, di antaranya Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur Nanang, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur Endy Alim Abdi Nusa, serta Sekretaris Jenderal OPOP Jatim Gus Ghofirin. Selain itu, turut hadir narasumber dari Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri yang memaparkan praktik terbaik pengelolaan koperasi pesantren mandiri berbasis sistem berkoperasi.
Dalam sambutannya, Endy Alim Abdi Nusa menegaskan bahwa penyuluhan ini dirancang agar memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi pesantren. Menurutnya, kehadiran narasumber berpengalaman diharapkan mampu memberikan bekal praktis kepada para peserta.
“Kami ingin peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga contoh konkret yang bisa langsung diterapkan di pesantren masing-masing. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat dikembangkan dan memberi manfaat luas bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Baca Juga : Kemenkop Bentuk Command Center untuk Monitoring Koperasi Secara Real-Time
Endy juga menekankan pentingnya pengelolaan koperasi pesantren secara profesional tanpa meninggalkan nilai keberkahan. Ia menyebut koperasi harus dibangun di atas sistem yang kuat, sehat secara usaha, dan tertib administrasi.
“Dengan kelembagaan yang baik, koperasi dapat menjadi lokomotif ekonomi pesantren, meningkatkan kesejahteraan santri, guru, serta masyarakat sekitar. Pemerintah Provinsi Jawa Timur siap bersinergi dan memberikan pendampingan berkelanjutan,” tambahnya.
Sementara itu, Gus Ghofirin menjelaskan bahwa pemberdayaan ekosistem pesantren dilakukan melalui lima aspek utama, yakni kelembagaan dan usaha, sumber daya manusia, kualitas produk, pemasaran, serta pembiayaan. Menurutnya, penguatan tata kelola koperasi pondok pesantren menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pesantrenpreneur yang mandiri dan berdaya saing.
“Tujuan besar dari penyuluhan ini adalah terbentuknya koperasi pondok pesantren peserta OPOP tahun 2026. Dengan koperasi, pesantren diharapkan mampu membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan sarana prasarana, serta menambah kesejahteraan para asatidz,” tegasnya.
Materi benchmarking dari Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri menjadi salah satu sesi yang menarik perhatian peserta. Narasumber memaparkan strategi penguatan modal internal, manajemen usaha, sistem keanggotaan, hingga disiplin administrasi yang menjadi kunci keberhasilan koperasi pesantren dalam menopang ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan.
Salah satu peserta dari Pesantren Al Islahiyah Ahsani mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Ia menilai penyuluhan tersebut membuka wawasan baru tentang pentingnya kelembagaan koperasi.
“Kami berharap tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga pendampingan lanjutan agar koperasi di pesantren kami semakin tertata dan mampu menjadi pilar ekonomi santri. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, OPOP Jatim bersama Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur optimistis koperasi pesantren dapat tumbuh kuat, profesional, dan berkelanjutan, sehingga kemandirian ekonomi pesantren di Jawa Timur dapat benar-benar terwujud.












