Nusawarta.id, Kandangan — Muhammad Zain Maulana, mitra deradikalisasi Densus 88 Antiteror Polri, menyerukan agar generasi muda tidak menjadi korban adu domba paham radikalisme. Dalam wawancara eksklusif bersama Nusawarta.id di Kandangan, Kamis (23/05/2025), Zain berbagi kisah hidupnya yang pernah terjerumus dalam ideologi kekerasan hingga berujung penjara, sebelum akhirnya menyatakan kembali sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Paham radikalisme/terorisme adalah bahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Kita jangan sampai terpengaruh oleh propaganda kekerasan dan kebencian yang disebarkan oleh kelompok radikal (terorisme).
Baca Juga PMI HSS Tegaskan Komitmen Pemuda Jadi Garda Terdepan Tangkal Radikalisme
Zain mengaku pernah terlibat dalam jaringan ekstremis, namun kesadarannya bangkit setelah menjalani masa hukuman dan mengikuti program deradikalisasi. Ia kini aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama pemuda, agar tidak mudah termakan propaganda yang menyesatkan.
Tingkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang agama, sejarah, dan kebangsaan. Dengan pengetahuan yang benar, kita dapat mengenali dan menolak paham radikalisme/terorisme.
Zain menekankan bahwa lingkungan sosial seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat harus menjadi ruang aman untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Menurutnya, pencegahan harus dimulai sejak dini dan dilakukan bersama-sama.
Baca Juga Densus 88 Gelar Wawasan Kebangsaan di Sragen, Perkuat Upaya Deradikalisasi
Sebarkan pesan-pesan persatuan, toleransi, dan cinta damai di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Ia juga mengajak pemuda untuk tidak hanya bersikap pasif, tetapi aktif dalam berbagai kegiatan yang positif dan membangun. Peran generasi muda dinilainya sangat penting dalam menjaga keutuhan bangsa dari rongrongan ideologi kekerasan.
Baca Juga Mencegah Radikalisme dan TPPO, Anak Petani di Bekasi Dapat Pendidikan Pancasila
Kita juga harus berpartisipasi dalam kegiatan positif yang mendukung persatuan dan pembangunan bangsa.
Menutup wawancara, Zain menyampaikan harapannya agar kisah masa lalunya dijadikan pelajaran, bukan hanya sebagai peringatan, tetapi juga sebagai inspirasi bahwa setiap orang bisa berubah dan memberi manfaat untuk bangsa.
“Mari bersama-sama kita bangun Indonesia yang lebih baik, damai, sejahtera dan menuju Indonesia Emas 2045”, tutupnya. (Syairi/Red)












