Nusawarta.id, Jakarta – Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto, mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya pedagang takjil selama bulan Ramadan, untuk memperkuat penggunaan transaksi berbasis digital. Langkah ini dinilai penting guna memudahkan konsumen yang semakin terbiasa menggunakan metode pembayaran nontunai dalam aktivitas jual beli sehari-hari.
“Secara umum, digitalisasi UMKM sudah menjadi perhatian. Masyarakat sudah mulai terbiasa memanfaatkan sistem transaksi digital. Apalagi, transaksi nontunai semakin lazim dalam aktivitas jual beli sehari-hari,” kata Wahyu dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Menurut Wahyu, penguatan transaksi digital dapat menjadi strategi efektif bagi pelaku UMKM takjil untuk memanfaatkan momentum Ramadan sebagai peluang memperluas pasar dan meningkatkan omzet. Dengan sistem pembayaran yang praktis, cepat, dan aman, pedagang dapat memberikan kemudahan bagi pembeli sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi
Ia menilai, UMKM takjil memiliki peran strategis dalam menjaga perputaran ekonomi selama Ramadan. Setiap sore menjelang waktu berbuka, masyarakat kerap memadati lapak-lapak pedagang yang menjajakan aneka hidangan ringan, minuman manis, hingga makanan tradisional khas Ramadan. Kondisi ini menjadikan sektor UMKM takjil sebagai salah satu penggerak ekonomi rakyat yang cukup signifikan.
“Oleh karena itu, para pelaku usaha kecil harus memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya. Pada dasarnya, hal ini sudah menjadi tradisi. Mudah-mudahan, usaha musiman ini bisa berjalan dengan baik,” ujar Wahyu.
Lebih lanjut, ia berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat terus memberikan dukungan, baik dalam bentuk sosialisasi, pelatihan, maupun pendampingan, agar para pelaku UMKM semakin siap beradaptasi dengan ekosistem digital. Dengan demikian, transformasi digital di sektor UMKM dapat berjalan lebih merata dan berkelanjutan.
Sementara itu, berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada 2025 mencapai 6,1 juta, meningkat 3,87 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 5,9 juta pengguna. Tak hanya itu, jumlah merchant yang memanfaatkan sistem pembayaran digital tersebut juga mengalami peningkatan signifikan.
Pada 2025, jumlah merchant pengguna QRIS tercatat mencapai 6,5 juta, naik 13,90 persen dari sebelumnya sebanyak 5,7 juta. Dari jumlah tersebut, pelaku UMKM mendominasi penggunaan QRIS di Jakarta dengan persentase mencapai 75,22 persen.
Peningkatan ini menunjukkan tingginya antusiasme pelaku usaha kecil dalam mengadopsi sistem pembayaran digital. Diharapkan, tren positif tersebut dapat terus berlanjut, terutama selama Ramadan, sehingga UMKM takjil mampu berkembang, berdaya saing, dan berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.












