Nusawarta.id – Solo. Sungai Bengawan Solo kembali meluap pada Selasa, 25 Februari 2025, yang mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Empat kelurahan terdampak banjir ini, yaitu Sangkrah, Sewu, Jebres, dan Mojo. Banjir terjadi sekitar pukul 01.45 WIB, dengan kenaikan air yang cukup cepat hingga memasuki rumah-rumah warga. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke tenda-tenda darurat yang didirikan di atas tanggul, seperti yang terjadi di Kampung Sewu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta telah menyalurkan bantuan logistik dan peralatan, termasuk empat tenda dan 20 matras, khususnya di Kelurahan Sangkrah. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengingat Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Bengawan Solo masih berada pada status siaga merah.
Selain di Surakarta, luapan Sungai Bengawan Solo juga berdampak pada wilayah lain. Di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, banjir merendam 17 desa yang tersebar di tujuh kecamatan, antara lain Mantingan, Karanganyar, Widodaren, Kedunggalar, Pitu, Paron, dan Ngawi. Banjir ini mengakibatkan sekitar 63 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Pilanggarem, Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, terisolasi karena akses jalan satu-satunya terendam air setinggi 1,2 meter. Pemerintah Kabupaten Ngawi telah mendirikan dapur umum di beberapa lokasi untuk memenuhi kebutuhan pangan warga yang terdampak.
Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, luapan Sungai Bengawan Solo menyebabkan banjir yang merendam enam desa di empat kecamatan pada Rabu, 22 Januari 2025. Ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 60 sentimeter, menggenangi rumah-rumah warga dan lahan pertanian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro melaporkan bahwa Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Bengawan Solo mencapai 14,34 meter di atas permukaan laut, dengan status siaga merah. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan memantau perkembangan informasi terkait kondisi sungai.
Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo ini tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga berdampak signifikan pada sektor pertanian. Di Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, lebih dari 30 hektar tanaman padi siap panen terendam banjir, mengancam potensi gagal panen bagi para petani. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Bojonegoro, di mana ratusan hektar tanaman padi di Kecamatan Baureno dan Kanor terancam puso akibat sawah yang tergenang air. Para petani berharap intensitas hujan berkurang dan air segera surut agar tanaman padi dapat terselamatkan.
Meluapnya sungai ini disebabkan oleh tingginya curah hujan di daerah hulu, yang mengakibatkan peningkatan debit air sungai. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus berupaya melakukan penanganan dan memberikan bantuan kepada warga terdampak, serta mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi banjir susulan. (Iza/Red)












