Kenaikan Harga Plastik Jadi Momentum Ubah Pola Konsumsi dan Perkuat Ekonomi Sirkular

  • Bagikan
Harga plastik naik signifikan sejak sebelum Lebaran pada 21 Maret 2026. (Foto: Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta — Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB), Daniel Johan, menilai lonjakan harga plastik dapat menjadi momentum untuk mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat sekaligus memperkuat penggunaan material alternatif yang lebih berkelanjutan.

Menurut Daniel, kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini memang memberi dampak langsung terhadap sektor perdagangan, khususnya pelaku usaha kecil dan konsumen rumah tangga. Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang untuk mendorong transformasi kebiasaan masyarakat.

“Harus diakui plastik sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat sehari-hari. Ketika harganya melonjak, sektor domestik ikut terdampak besar,” ujar Daniel di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan harga plastik dipicu oleh gangguan rantai pasok global serta tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor yang mencapai sekitar 60 persen. Pada April 2026, harga plastik dilaporkan naik antara 30 hingga 80 persen.

Baca Juga : Hasto Kristiyanto: Kritik Dipolisikan, Demokrasi Terancam—Semangat Konferensi Asia Afrika Jangan Dikhianati

Daniel menilai kondisi ini tidak semata-mata persoalan kenaikan biaya produksi, melainkan sinyal kuat bahwa struktur industri nasional masih bergantung pada material berbasis fosil yang rentan terhadap dinamika eksternal.

“Kenaikan harga plastik bisa menjadi momen untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai dan memperkuat ekosistem material alternatif yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Ia mendorong masyarakat mulai mengadopsi kebiasaan sederhana, seperti membawa kantong belanja sendiri atau menggunakan wadah yang dapat dipakai ulang saat membeli makanan. Langkah tersebut dinilai efektif untuk menekan konsumsi plastik sekali pakai.

Selain perubahan perilaku, Daniel juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah plastik. Ia menyebut keberadaan bank sampah perlu ditingkatkan perannya sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi bahan baku sekunder, bukan sekadar program lingkungan.

Baca Juga  Pramono Tancap Gas, RS Sumber Waras Disiapkan Jadi Rumah Sakit Internasional Kanker dan Jantung

“Jika plastik bekas dapat kembali masuk ke rantai produksi, ketergantungan terhadap bahan baku primer dapat ditekan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Daniel meminta pemerintah memberikan dukungan kebijakan yang jelas untuk mendorong transisi menuju kemasan ramah lingkungan. Dukungan tersebut mencakup regulasi, kepastian pasar, serta insentif investasi bagi industri.

Sementara itu, Founder & Chairman Supply Chain Indonesia, Setijadi, mengungkapkan lonjakan harga plastik bahkan mencapai 50 hingga 100 persen akibat terganggunya pasokan bahan baku impor, khususnya nafta.

Baca Juga : Prabowo Tutup Sesi Retret DPRD, Pilih Bicara Blak-blakan Tanpa Sorotan Media

Menurutnya, kondisi ini merupakan indikasi awal krisis stok bahan baku yang tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga material lain seperti bahan kimia, logam, hingga material kritikal.

“Gangguan ini bersifat multimaterial shortage, sehingga berdampak langsung pada proses produksi berbagai sektor industri,” kata Setijadi.

Ia menambahkan, ketergantungan tinggi terhadap impor—yang mencapai lebih dari 70 persen untuk kebutuhan bahan baku industri nasional—memperbesar risiko gangguan produksi. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat meningkatkan waktu tunggu (lead time), menekan kapasitas produksi, hingga mendorong kenaikan harga barang di pasar.

Jika tidak diantisipasi, lanjutnya, gangguan pasokan tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan konsumsi nasional seiring melemahnya daya beli masyarakat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *