SBY: Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Cukup, Kepercayaan Publik dan UMKM Jadi Penopang Negara

  • Bagikan
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Foto: Antara/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menegaskan bahwa indikator keberhasilan pembangunan sebuah negara di era modern tidak lagi cukup hanya diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks, kemampuan menjaga kepercayaan publik dan memperkuat ekonomi akar rumput dinilai menjadi kunci utama ketahanan sebuah negara.

Hal itu disampaikan SBY saat berpidato dalam acara The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

“Karena pertumbuhan saja tidak lagi cukup. Sebuah negara bisa mencatat pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, tetapi tetap menghadapi ketimpangan yang melebar, menurunnya kepercayaan masyarakat, dan fragmentasi sosial,” ujar SBY.

Menurutnya, dunia saat ini tengah memasuki era penuh disrupsi yang ditandai meningkatnya rivalitas geopolitik, konflik bersenjata di berbagai kawasan, hingga perubahan besar dalam rantai pasok global. Dalam kondisi tersebut, tantangan negara berkembang bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, melainkan menciptakan pertumbuhan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.

SBY kemudian membagikan pengalaman kepemimpinannya saat Indonesia menghadapi sejumlah krisis besar, mulai dari dampak krisis moneter Asia 1997-1998, bencana tsunami Aceh 2004, hingga krisis finansial global 2008.

Baca Juga : KPK Ungkap Aliran Uang Pemerasan ke Wamen Imipas, Silmy Karim Diduga Terima Rp100 Juta per Pekan

Ia menekankan pentingnya ketenangan seorang pemimpin dalam menghadapi situasi darurat. Menurutnya, kepanikan hanya akan memperburuk kondisi negara dan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Ketakutan menyebar dengan cepat pada masa-masa sulit. Kepanikan melemahkan institusi. Seorang pemimpin harus tetap tenang, jujur, dan memiliki arah yang jelas,” tegasnya.

Selain itu, SBY menilai tata kelola pemerintahan saat ini harus mampu menggabungkan prinsip dan pragmatisme secara seimbang. Pemerintah dituntut adaptif dalam menghadapi dinamika global tanpa meninggalkan nilai dasar bangsa.

Baca Juga  Spektakuler Batfest 2024 Besutan H Isam: Executive Producer Liana dan Jhoni Dibalik Sukses nya Batfest 2024

Ia menegaskan bahwa agenda jangka panjang seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan mitigasi perubahan iklim harus tetap menjadi prioritas, karena pembangunan kesejahteraan tidak dapat diwujudkan secara instan.

Dalam pidatonya, SBY juga menyoroti pentingnya peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai penyangga utama perekonomian nasional maupun kawasan ASEAN. Menurutnya, sektor UMKM terbukti memiliki daya tahan tinggi ketika ekonomi global mengalami guncangan.

“Ketika guncangan global terjadi, sistem bisa melemah, investasi menjadi lebih berhati-hati, dan pasar internasional berfluktuasi. Namun, komunitas akar rumput tetap beradaptasi, bertahan, dan bangkit kembali. Untuk itu, pemberdayaan UMKM bukan sekadar agenda sosial, melainkan agenda ekonomi yang strategis,” katanya.

SBY juga mendorong transformasi model pertumbuhan ekonomi di Asia. Ketergantungan terhadap upah murah dan eksploitasi komoditas mentah dinilai sudah tidak relevan untuk menghadapi persaingan global di masa depan.

Baca Juga : Sertifikasi Halal Desa Wisata Dongkrak Ekonomi Masyarakat dan Daya Saing Pariwisata

Ia menilai daya saing kawasan akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara dalam mengadopsi teknologi digital dan memperluas akses inklusi keuangan bagi masyarakat kecil.

Meski tantangan global diperkirakan semakin rumit, SBY mengaku tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia. Ia menyebut kekuatan utama bangsa bukan berada pada korporasi besar semata, melainkan pada ketangguhan masyarakat di tingkat akar rumput.

Menurutnya, jutaan pelaku usaha kecil di desa-desa merupakan fondasi penting yang terus menjaga harapan dan pergerakan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian dunia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *