Dishub DKI Siapkan Strategi Jaga Minat Penumpang di Tengah Rencana Penyesuaian Tarif Transjabodetabek

  • Bagikan
Warga melintas di depan bus Transjabodetabek SH2 usai diluncurkan di Halte Blok M, Jakarta, Kamis (12/3/2026). (Foto Ilustrasi: Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga minat masyarakat menggunakan transportasi umum menyusul rencana penyesuaian tarif layanan Transjabodetabek. Upaya tersebut difokuskan untuk mendorong warga di wilayah penyangga Jakarta tetap beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.

Kepala Dishub DKI Jakarta Budi Awaludin mengatakan pihaknya akan melakukan sosialisasi secara komprehensif mengenai urgensi penyesuaian tarif kepada masyarakat dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Selain itu, Dishub DKI berencana memperluas skema tarif integrasi yang selama ini berlaku melalui aplikasi JakLingko.

“Seperti tarif maksimum Rp10.000 dalam tiga jam yang diakses melalui aplikasi JakLingko agar mencakup seluruh rute Transjabodetabek,” kata Budi saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Baca Juga : Pemerintah Belum Berencana Isi Posisi Wamen Imipas Usai Silmy Karim Ditahan KPK

Budi menjelaskan, tarif integrasi Rp10.000 merupakan batas maksimum biaya perjalanan yang dikenakan kepada pengguna yang memanfaatkan lebih dari satu moda transportasi umum dalam satu perjalanan berkelanjutan, seperti kombinasi layanan Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.

Namun, menurut dia, skema tersebut saat ini hanya dapat dinikmati oleh pengguna yang mengakses layanan melalui aplikasi JakLingko.

Selain memperluas integrasi tarif, Dishub DKI juga berupaya meningkatkan kualitas layanan transportasi umum. Langkah tersebut meliputi penyediaan jadwal keberangkatan yang lebih akurat guna memangkas waktu tempuh perjalanan penumpang.

Peningkatan layanan juga dilakukan melalui perbaikan akses lanjutan atau first mile dan last mile di titik-titik transit. Upaya tersebut mencakup penyediaan fasilitas pendukung yang lebih baik, integrasi fisik yang aman dengan halte maupun stasiun, serta pengembangan rute pengumpan (feeder) untuk memudahkan masyarakat mencapai tujuan akhir perjalanan.

“Termasuk integrasi fisik yang aman dengan halte atau stasiun serta menyediakan rute pengumpan agar penumpang mudah mencapai titik akhir tujuan,” ujar Budi.

Baca Juga  Arus Pendatang ke Jakarta Didominasi Pencari Kerja, Dukcapil Catat Mayoritas Usia Produktif

Di sisi lain, Budi mengungkapkan bahwa besaran subsidi untuk layanan Transjabodetabek pada tahun 2026 mencapai Rp401,09 miliar. Sementara itu, rata-rata subsidi yang diberikan pemerintah untuk setiap pelanggan mencapai Rp12.258 per perjalanan.

Baca Juga : KPK Dalami Dugaan Gratifikasi Batu Bara, Periksa Rita Widyasari dan Keterkaitan Tiga Korporasi

Meski demikian, ia menilai tidak ada kendala signifikan dalam pengembangan layanan Transjabodetabek. Namun, koordinasi antarpihak masih diperlukan, terutama terkait penyediaan sarana dan prasarana, pembangunan halte, serta dukungan subsidi operasional.

“Masih diperlukan koordinasi lebih lanjut dalam hal penyediaan sarana prasarana dan operasional, seperti pembangunan halte hingga terkait subsidi,” kata Budi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *