KRI Sriwijaya Tiba di Tanjung Priok, Kapal Induk Eks Italia Jadi Sorotan Dunia

  • Bagikan
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi yang kini bernama KRI Sriwijaya bersandar di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026). (Foto: Antara/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Kapal induk perang pertama Indonesia, KRI Sriwijaya, tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026) pagi. Kedatangan kapal perang eks Italia tersebut mendapat perhatian dari sejumlah media internasional.

Upacara penyambutan berlangsung sejak pukul 07.53 WIB. Lima pesawat dari Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) turut mengawal kedatangan kapal yang sebelumnya bernama Giuseppe Garibaldi itu.

Media China Xinhua menyoroti penyerahan kapal yang telah dipensiunkan Italia tersebut kepada Indonesia. Sementara Associated Press (AP) mencatat kehadiran KRI Sriwijaya membuat Indonesia menjadi negara kedua di Asia Tenggara yang memiliki kapal induk setelah Thailand.

Baca Juga : Prabowo Siapkan Investasi Besar untuk Perkuat Mitigasi Bencana

Juru Bicara TNI AL Laksamana Pertama Tunggul mengatakan KRI Sriwijaya tidak semata-mata diproyeksikan untuk operasi tempur. Kapal tersebut akan lebih banyak digunakan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

“Kapal ini terutama akan difokuskan pada bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, sembari tetap melaksanakan patroli maritim rutin serta diplomasi maritim di perairan strategis,” ujar Tunggul.

Kedatangan KRI Sriwijaya juga dikaitkan dengan agenda modernisasi pertahanan Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Modernisasi tersebut mencakup pengadaan berbagai alutsista, mulai kapal selam, fregat, pesawat tempur hingga sistem rudal.

Namun, keberadaan kapal induk berusia 41 tahun itu turut memunculkan perdebatan mengenai biaya peremajaan dan pengoperasiannya.

Baca Juga : KSP Soroti Hambatan Distribusi Beras, Minyakita, Gas, dan Pupuk Subsidi

Kementerian Keuangan disebut telah menyetujui dana US$450 juta untuk program kapal induk tersebut pada 2025. Sementara Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin memperkirakan biaya retrofit kapal agar siap dioperasikan dapat mencapai sekitar Rp16 triliun atau US$900 juta.

Baca Juga  Prabowo Ungkap Laba BUMN Tembus Rp326 Triliun

Besarnya potensi biaya tersebut kini menjadi salah satu sorotan di tengah kedatangan KRI Sriwijaya yang mencatat sejarah baru bagi kekuatan maritim Indonesia.

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *