Tradisi Bakar Batu, Simbol Persaudaraan dan Syukur di Pegunungan Papua

  • Bagikan

Nusawarta.id – Jayawijaya. Tradisi adat Bakar Batu kembali menjadi wujud nyata kearifan lokal yang mengikat masyarakat Pegunungan Papua dalam kebersamaan dan rasa syukur. Pada Minggu (29/12/2024), personel Pos Napua TNI turut hadir dalam acara Bakar Batu yang diselenggarakan oleh Gereja Kemah Injil (Kingmi) Sinode Papua Kelasis Baliem Tengah Jemaat Eklesia Sinagek, Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya.

Dipimpin oleh Danpos Napua, Kapten Inf I Komang Agus Suratmaja, kehadiran para personel TNI yang beragama Nasrani ini tidak hanya sebagai tamu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat. Mereka memenuhi undangan warga untuk merayakan Natal bersama sekaligus menyambut Tahun Baru 2025 melalui tradisi yang sarat makna ini.

“Tradisi adat Bakar Batu ini adalah salah satu bentuk menciptakan rasa persaudaraan sekaligus wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini menjadi rutinitas setiap tahun untuk memeriahkan Hari Natal dan menyambut Tahun Baru,” ujar Kapten I Komang Agus Suratmaja.

Acara ini tidak hanya memperlihatkan kekayaan budaya Papua, tetapi juga mencerminkan sinergi antara masyarakat adat dan TNI. Para anggota Pos Napua bahu-membahu membantu menyiapkan proses Bakar Batu, mulai dari mengumpulkan kayu bakar hingga menyusun batu dan memasak bahan makanan bersama warga. Sebagai bentuk kepedulian, mereka juga memberikan bantuan berupa sembako seperti beras, gula, dan kopi untuk mendukung kesejahteraan masyarakat setempat.

Bakar Batu, yang dikenal sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur, menjadi sarana untuk mempererat hubungan masyarakat di Pegunungan Papua. Acara ini melibatkan berbagai generasi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.

Bapak Obasok Matuan (51), perwakilan Jemaat Gereja Kemah Injil, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran anggota Pos Napua. “Kami sangat bersyukur atas kehadiran dan bantuan dari Pos Napua. Kehadiran mereka memberi semangat dan mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat,” tuturnya.

Baca Juga  Safari Ramadan di Medan, Kapolri: Pererat Silaturahmi Demi Keamanan dan Kesejahteraan

Tradisi Bakar Batu tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga momentum untuk merefleksikan nilai-nilai persaudaraan dan kerja sama. Kegiatan ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kearifan lokal sebagai warisan berharga yang mengikat masyarakat dalam harmoni. Sinergi antara TNI dan masyarakat melalui acara ini menjadi contoh nyata bahwa tradisi lokal dapat menjadi jembatan untuk memperkuat rasa kebersamaan. (Arf/Red)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *