Nusawarta.id, Jakarta – Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia dilaporkan telah mencapai Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi keberadaan asap karhutla di langit Ibu Kota sejak Jumat (16/10/2026).
Fenomena ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana asap dari kebakaran di wilayah seperti Kalimantan dapat mencapai Jakarta, meski pola angin dominan selama musim kemarau umumnya bergerak dari timur-tenggara menuju barat laut-utara.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa secara meteorologis, perpindahan asap karhutla lintas pulau sangat mungkin terjadi. Namun, kepastian jalur penyebarannya harus dibuktikan melalui analisis data angin aktual.
“Secara meteorologis, masuknya asap karhutla hingga ke wilayah Ibu Kota bisa saja terjadi, meski kepastian jalur penyebarannya tetap harus dibuktikan melalui data angin aktual,” ujar Daryono melalui pesan singkat.
Baca Juga : Boyamin Desak KPK Jemput Paksa Nusron Wahid Usai Dua Kali Mangkir Pemeriksaan
Ia menjelaskan, terdapat empat faktor meteorologis yang memungkinkan asap karhutla menempuh perjalanan ratusan kilometer hingga mencapai Jakarta.
Pertama, arah angin tidak selalu seragam di setiap wilayah. Meski angin timuran mendominasi sirkulasi atmosfer selama musim kemarau, arah pergerakannya dapat berubah bergantung pada lokasi, ketinggian, waktu, dan kondisi atmosfer.
Karena itu, angin di Kalimantan belum tentu bergerak ke arah yang sama dengan angin di Laut Jawa maupun Jakarta.
Kedua, asap dapat bergerak pada lapisan atmosfer yang berbeda. Partikel halus hasil pembakaran, termasuk PM2.5, dapat terangkat ke atmosfer akibat proses konveksi dan turbulensi udara hingga ketinggian ratusan bahkan ribuan meter.
Kondisi tersebut memungkinkan asap mengikuti jalur pergerakan udara di lapisan atmosfer atas yang berbeda dari arah angin yang dirasakan masyarakat di permukaan.
” Kondisi ini memungkinkan asap bergerak mengikuti jalur transportasi atmosfer yang tidak selalu searah dengan angin yang dirasakan masyarakat di permukaan,” jelas Daryono.
Ketiga, dinamika atmosfer regional dapat mengubah pola angin. Gangguan atmosfer, pembentukan daerah bertekanan rendah, sirkulasi siklonik, serta peralihan monsun dapat memengaruhi arah dan kecepatan angin.
Apabila kondisi tersebut membentuk jalur aliran udara dari wilayah sumber kebakaran menuju Laut Jawa dan Jakarta, asap berpotensi terbawa melintasi lautan hingga mencapai Ibu Kota.
Baca Juga : DPR Desak Pemerintah Evaluasi Karhutla Berulang dan Perketat Pengawasan Korporasi
Keempat, konsentrasi asap cenderung mengalami pengenceran selama perjalanan. Proses pencampuran udara dan pengendapan partikel di atmosfer dapat mengurangi konsentrasi asap sebelum mencapai wilayah yang jauh dari sumber kebakaran.
Dengan demikian, keberadaan asap karhutla di Jakarta tidak serta-merta menunjukkan tingkat pencemaran udara yang ekstrem. Tingkat dampaknya bergantung pada banyak faktor, termasuk besarnya emisi kebakaran, kecepatan angin, curah hujan, dan stabilitas atmosfer.
Daryono menegaskan, penilaian terhadap dampak asap karhutla harus mempertimbangkan kondisi atmosfer dan kualitas udara secara menyeluruh. Data arah angin pada berbagai ketinggian diperlukan untuk memastikan jalur perpindahan asap dari sumber kebakaran hingga ke Jakarta.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak selalu terbatas pada wilayah yang terbakar. Asap dapat menyebar melintasi batas geografis dan berpotensi memengaruhi kualitas udara di daerah yang berjarak ratusan kilometer dari titik api.













Respon (2)