Nusawarta.id, Jakarta – Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, menyoroti komitmen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dalam mengembangkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Seulawah Agam menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Ia meragukan janji Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, yang baru-baru ini menyatakan kesiapan perusahaan dalam membebaskan lahan dan melakukan sosialisasi.
Menurut Yusri, sejak tender WKP Seulawah Agam dimulai pada 2011 hingga ditetapkannya PT Geothermal Energi Seulawah (GES) sebagai operator pada 2013, tidak ada perkembangan signifikan. Bahkan, hingga kini belum ada aktivitas pengeboran eksplorasi ataupun pembebasan lahan untuk tapak bor.
“Kami melihat ini sangat ironis. Sudah lebih dari satu dekade sejak proyek ini dimulai, tapi langkah konkret seperti pembebasan lahan pun belum dilakukan. Sementara di daerah lain, proyek serupa sudah menghasilkan listrik,” ujar Yusri, Minggu (23/3/2025).
Ia menambahkan bahwa survei geologi, geokimia, dan geofisika di WKP Seulawah Agam sudah dilakukan sejak 1989 hingga 1995 oleh PT Tenaga Nusantara Group bekerja sama dengan Pertamina Dinas Geothermal Pusat. Sementara di wilayah lain, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, dan Lampung, proyek panas bumi sudah beroperasi atau dalam tahap konstruksi.
“Yang jadi pertanyaan besar, kenapa Seulawah Agam seolah dianaktirikan? Padahal potensinya sudah lama diketahui,” kata Yusri.
Lebih lanjut, CERI juga pernah mempertanyakan kebijakan PGEO yang memilih berinvestasi di luar negeri setelah berhasil mengumpulkan dana Rp 9 triliun dari pasar modal pada Februari 2023. Yusri menilai bahwa sejak era Orde Baru, Pertamina seharusnya fokus pada optimalisasi sumber daya energi domestik untuk kepentingan nasional.
Dalam konteks ini, Yusri menegaskan bahwa Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, tidak akan mudah percaya pada janji-janji manis Pertamina Geothermal.
“Mualem berbeda dengan para gubernur sebelumnya. Dia adalah pemimpin yang lahir dari perjuangan di lapangan, paham betul kesulitan rakyatnya. Tidak mudah baginya menerima janji tanpa realisasi,” tegas Yusri.
CERI memprediksi bahwa Mualem akan mengusulkan kepada Menteri ESDM agar kepemilikan mayoritas dalam PT Geothermal Energi Seulawah diberikan kepada PT Pembangunan Aceh (PEMA) saat hak pengelolaan WKP Seulawah Agam berakhir pada 8 April 2025.
“Harapan kami, Mualem bisa memilih putra daerah yang berintegritas untuk duduk sebagai direksi di PT PEMA atau PT Geothermal Energi Seulawah agar proyek ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Aceh,” tutup Yusri. (San/Red)












