Impor 105 Ribu Pikap Rp24,6 Triliun Disorot, Agrinas Bantah Singkirkan Pabrikan Lokal

  • Bagikan
Dirut PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) Joao Angelo De Sousa Mota di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (16/9/2025). (Foto: ANTARA/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Polemik impor 105.000 unit mobil pikap dari India senilai Rp24,66 triliun yang menyeret PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) terus bergulir. Kebijakan tersebut memantik sorotan tajam publik, bahkan memunculkan kecurigaan yang mengarah pada dugaan praktik korupsi. Menanggapi isu tersebut, Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, tampil memberikan klarifikasi dan membantah berbagai tudingan miring.

Joao menegaskan, proses pengadaan kendaraan niaga untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih telah dilakukan secara terbuka, transparan, dan kompetitif. Menurutnya, seluruh produsen otomotif nasional diberikan kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam tender. Namun, hasil evaluasi menunjukkan tidak ada satu pun pabrikan lokal yang mampu memenuhi kebutuhan volume dan harga yang dipersyaratkan.

“Kami sangat terbuka dan seluruh proses dilakukan secara transparan. Semua produsen kami beri kesempatan yang sama. Namun, tidak ada yang mampu memenuhi kebutuhan kami lebih dari 100 ribu unit dalam waktu yang ditentukan,” ujar Joao di kantor Agrinas, Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Baca Juga : Zulkifli Hasan Tegaskan RI Tak Impor Beras dan Ayam dari AS

Berdasarkan dokumen yang dipaparkan, terdapat empat pabrikan nasional yang menyatakan kesanggupan, yakni Mitsubishi Fuso, Foton Aumark, Hino, dan Astra Isuzu Canter. Namun, total kapasitas produksi keempatnya hanya mencapai 45.000 unit. Rinciannya, Mitsubishi Fuso sanggup memproduksi 20.600 unit, Foton Aumark 13.500 unit, Hino 10.000 unit, dan Astra Isuzu Canter 900 unit.

Selain keterbatasan volume, faktor harga juga menjadi pertimbangan krusial. Joao menyebut, harga yang ditawarkan pabrikan lokal rata-rata 25 persen lebih mahal dibandingkan kompetitor asing. Upaya lobi dan negosiasi telah dilakukan, namun tidak menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Baca Juga  Meningkatkan Profesionalisme, 157 Pengurus Koperasi Merah Putih Diberi Pelatihan Digital

“Seharusnya kami bisa mendapatkan harga khusus. Tapi hingga hari terakhir, tidak ada penawaran harga yang sesuai. Karena itu, kami terpaksa mengimpor dari luar, khususnya India,” katanya.

Kebijakan impor ini pun menuai kontroversi besar. Industri otomotif nasional yang tengah tertekan akibat lemahnya daya beli masyarakat dan serbuan truk impor dari China, kembali mendapat pukulan telak. Padahal, Indonesia memiliki sederet pabrikan yang dinilai mumpuni dalam memproduksi kendaraan niaga, seperti Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, Isuzu, Wuling, hingga DFSK.

Baca Juga : Kemenag–British Council Perkuat Guru Bahasa Inggris Madrasah, Dorong Akses Global Pendidikan Islam

Dalam proyek pengadaan ini, dua pabrikan asal India dipastikan menjadi pemasok utama, yakni Mahindra & Mahindra yang menyediakan 35.000 unit pikap 4×4 Scorpio, serta Tata Motors yang memasok 35.000 unit pikap 4×4 Yodha dan 35.000 unit truk roda enam Ultra T.7.

Langkah impor besar-besaran tersebut dinilai ironis, karena di saat pemerintah menggaungkan penguatan industri dalam negeri, justru proyek strategis nasional lebih banyak mengalir ke luar negeri. Kebijakan ini pun diharapkan dapat dievaluasi secara menyeluruh agar tidak semakin menekan keberlangsungan industri otomotif nasional dan rantai pasok lokal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *