Nusawarta.id, Jakarta — Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Riyanto, mengapresiasi capaian satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan produksi beras nasional. Ia menilai langkah ini sebagai sinyal kuat bahwa target swasembada beras yang menjadi visi besar pemerintah semakin dekat terwujud.
“Artinya, swasembada sudah di depan mata dan kita secara nyata berhasil menyediakan beras dalam negeri. Tapi ke depan, pekerjaan rumahnya adalah membenahi tata niaga beras dan menjaga agar harga tidak kembali naik,” ujar Riyanto, Minggu (26/10/2025).
Riyanto menilai kenaikan produksi beras tahun ini tidak terlepas dari peran aktif Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah pimpinan Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, Amran menjadi salah satu tokoh kunci yang menggerakkan petani dan pemerintah daerah untuk memperkuat sektor pertanian.
“Saya melihat Pak Amran paling bekerja keras dalam urusan kenaikan produksi. Beliau yang menggerakkan petani dan kepala daerah untuk sama-sama membangun sektor pertanian, khususnya peningkatan produksi beras nasional,” tuturnya.
Baca Juga : Menteri PPPA Arifah Fauzi: Jangan Diam, Laporkan Setiap Kekerasan di Lingkungan Kampus
Lebih lanjut, Riyanto menyebut kebijakan pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering giling menjadi Rp6.500 per kilogram terbukti tepat. Kebijakan itu, katanya, membuat kondisi stok beras nasional saat ini berada dalam posisi surplus.
Selain itu, pemerintah juga baru saja menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi hingga 20 persen, efektif berlaku mulai 22 Oktober 2025, bertepatan dengan satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo. Penurunan ini dilakukan tanpa menambah anggaran subsidi APBN, melainkan melalui efisiensi industri dan perbaikan tata kelola distribusi pupuk nasional.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025, yang merevisi aturan sebelumnya. Penurunan harga meliputi seluruh jenis pupuk bersubsidi:
- Urea dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram
- NPK dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram
- NPK kakao dari Rp3.300 menjadi Rp2.640 per kilogram
- ZA khusus tebu dari Rp1.700 menjadi Rp1.360 per kilogram
- Pupuk organik dari Rp800 menjadi Rp640 per kilogram
Baca Juga : Mentan Amran Sulaiman Pastikan Pasokan Pangan Aman Selama Ramadhan
“Waktu petani memperoleh tambahan surplus dan iklim menanam padi di desa-desa sangat bergairah ketika pemerintah menentukan harga gabah Rp6.500 per kilogram dan baru-baru ini menurunkan harga pupuk,” tambah Riyanto.
Menurutnya, dua kebijakan tersebut telah meningkatkan pendapatan petani secara signifikan. “Petani kini bisa bernafas lega karena hasil jerih payahnya dihargai dengan wajar,” ujarnya.
Namun demikian, Riyanto menekankan pentingnya sinergi antara Kementerian Pertanian dan Perum Bulog, terutama dalam hal penyerapan hasil panen dan distribusi beras di pasar.
“Peran Bulog dan beras SPHP sangat penting agar konsumen di perkotaan tidak mengeluhkan harga beras. Tapi kalau dari sisi pendapatan petani, alhamdulillah sudah meningkat,” pungkasnya.












