Nusawarta.id, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menilai kebijakan work from home (WFH) yang direncanakan pemerintah dapat menjadi langkah cepat untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional. Menurutnya, penerapan kebijakan tersebut berpotensi mengurangi penggunaan BBM hingga sekitar 8–10 persen.
Hal itu disampaikan Eddy kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (30/3/2026). Ia menyebut pengurangan mobilitas masyarakat akibat kebijakan bekerja dari rumah dapat berdampak langsung terhadap berkurangnya konsumsi bahan bakar, terutama pada sektor transportasi yang selama ini menjadi penyumbang terbesar penggunaan BBM.
“Saya kira itu adalah sebuah solusi cepat dan praktis yang harus diambil, karena itu akan mengurangi penggunaan BBM kita, perhitungannya kurang lebih antara 8–10 persen,” kata Eddy.
Menurut politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut, kebijakan WFH dapat menjadi solusi jangka pendek yang efektif, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas energi dunia, termasuk pasokan dan harga minyak.
Baca Juga : Kejagung Hormati Seruan Komisi III DPR soal Putusan Ringan untuk Amsal Sitepu
Meski demikian, Eddy menegaskan bahwa langkah tersebut tidak boleh berhenti pada kebijakan jangka pendek saja. Pemerintah perlu terus mendorong strategi jangka panjang melalui percepatan transisi energi agar ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dapat dikurangi secara bertahap.
Ia menilai upaya elektrifikasi di berbagai sektor harus terus dipercepat, mulai dari transportasi hingga penggunaan energi di sektor rumah tangga dan industri. Salah satu contoh yang disorot adalah penggunaan kompor listrik sebagai alternatif pengganti LPG.
“Rumah tangga kita masih menggunakan LPG untuk memasak. Kalau konsumsi LPG yang sekarang sekitar 8 juta kiloliter per tahun bisa dikurangi dengan kompor listrik, tentu itu akan mengurangi beban impor BBM kita,” ujarnya.
Di sisi lain, Eddy juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Ia menilai hingga saat ini situasi di masyarakat masih relatif terkendali dan tidak menunjukkan gejala kepanikan terkait ketersediaan BBM.
“Hari ini kita tidak melihat adanya antrian dan kendaraan untuk membeli BBM secara panic buying. Tidak ada juga kekhawatiran bahwa kita akan kehabisan BBM dalam waktu dekat,” tuturnya.
Kendati demikian, Eddy mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat tetap waspada terhadap perkembangan situasi internasional, khususnya di kawasan Timur Tengah yang kerap menjadi pusat dinamika pasar energi global.
Baca Juga : SBY dan Jusuf Kalla Beri Penghormatan Terakhir untuk Juwono Sudarsono
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola konsumsi energi yang lebih hemat dan efisien. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum.
“Energi yang paling efisien adalah energi yang tidak kita gunakan. Jadi konservasi energi itu penting. Kita manfaatkan kendaraan umum karena transportasi adalah salah satu dari konsumsi BBM kita yang paling tinggi, di mana BBM-nya itu kita impor,” kata Eddy.












