Nusawarta.id, Amuntai – Balai Pelestarian Budaya (BPB) Wilayah XIII Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng) menggelar pemutaran film dokumenter berjudul “Peradaban di Atas Rawa” di Aula Idham Chalid, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Sabtu (8/11/2025). Kegiatan ini turut dihadiri Kepala BPB Wilayah XIII Kalselteng, Riris Purbasari, Wakil Bupati HSU Hero Setiawan yang hadir mewakili Bupati HSU H Sahrujani, serta sejumlah pejabat daerah, pelaku budaya, akademisi, dan masyarakat setempat.
Selain pemutaran film, acara juga dirangkai dengan kegiatan Basuluh Banua 2025, sebuah seminar kebudayaan berskala regional yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten HSU. Seminar ini menjadi ruang diskusi bagi para pemangku kepentingan untuk menggali dan memperkuat nilai-nilai budaya masyarakat di kawasan rawa.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penyerahan buku tentang Kabupaten HSU serta bunga Cempaka Abadi sebagai simbol persahabatan dan komitmen pelestarian budaya antara BPB Kalselteng dan Pemerintah Kabupaten HSU.
Film dokumenter “Peradaban di Atas Rawa” menyoroti kehidupan masyarakat Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir, yang mayoritas bersuku Banjar dan dikenal sebagai peternak kerbau rawa sekaligus nelayan tangkap. Saat ini, terdapat sekitar 50 peternak dengan populasi mencapai 1.500 ekor kerbau rawa.
Baca Juga : GOW HSU Tanam Pohon di Danau Panggang, Ajak Masyarakat Hijaukan Lingkungan
Salah satu tokoh dalam film, H Fahri, mengungkapkan bahwa tradisi beternak kerbau rawa telah diwariskan secara turun-temurun. Selain menjadi sumber ekonomi, kerbau rawa juga memiliki makna sosial dan budaya yang kuat, terutama saat perayaan Maulid Nabi, Idulfitri, dan Iduladha, ketika masyarakat bergotong royong dalam kegiatan pemotongan dan pengolahan daging.
Budaya gotong royong dan solidaritas sosial juga tercermin dalam aktivitas kaum ibu yang membuat anyaman purun sebagai sumber penghasilan tambahan keluarga. Menurut sejumlah akademisi, masyarakat di kawasan rawa telah beradaptasi secara alami dengan lingkungannya. Meski jejak sejarah berupa temuan gerabah dan keramik kuno pernah ditemukan, sebagian besar kini mulai hilang tergerus waktu.
Kepala BPB Wilayah XIII Kalselteng, Riris Purbasari, menilai kehidupan masyarakat rawa merupakan bukti nyata harmonisasi manusia dengan alam.
“Keberadaan rawa di wilayah Kabupaten HSU, khususnya di Kecamatan Paminggir, menunjukkan bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dan membangun peradaban khas yang menyatu dengan alam. Ini menjadi kekayaan budaya yang patut kita jaga bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Bupati HSU Hero Setiawan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Pemutaran film ini penting untuk memperkenalkan identitas masyarakat HSU. Hidup di atas rawa bukan sekadar bertahan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong, kerja keras, dan harmoni dengan lingkungan,” katanya mewakili Bupati HSU, H Sahrujani.
Hero berharap film dokumenter tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai budaya lokal serta menjaga kelestarian lingkungan rawa yang menjadi ciri khas Kabupaten Hulu Sungai Utara.












