Menag Nasaruddin Umar Ingatkan Tenaga Kesehatan Jangan Kehilangan Empati di Era AI

  • Bagikan
Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar memberikan Orasi Kebangsaan dalam Sidang Terbuka Wisuda Sarjana ke-II Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) KHAS Kempek di Cirebon, Kamis (30/4/2026).(Foto: Humas Kemenag/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya nilai spiritualitas dan empati dalam dunia kerja, khususnya di sektor kesehatan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern seperti kecerdasan buatan dan big data.

Pesan tersebut disampaikan Menag saat memberikan Orasi Kebangsaan dalam Sidang Terbuka Wisuda Sarjana ke-II STIKes KHAS Kempek di Cirebon, Kamis (30/4/2026).

Di hadapan 65 wisudawan, Nasaruddin menekankan bahwa kelulusan bukan sekadar akhir dari proses pendidikan, melainkan awal pengabdian di tengah masyarakat. Menurutnya, lulusan tenaga kesehatan tidak cukup hanya menguasai kemampuan teknis, tetapi juga harus menghadirkan nilai kemanusiaan dalam praktik profesinya.

“Wisuda ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan pengabdian. Momentum ini menandai perpindahan dari proses belajar menuju tanggung jawab mengamalkan ilmu di tengah kehidupan nyata,” ujar Menag.

Ia menilai profesi kesehatan memiliki posisi strategis dalam menjawab berbagai persoalan sosial, mulai dari stunting hingga keterbatasan akses layanan kesehatan. Karena itu, pendekatan yang mengedepankan empati dinilai menjadi bagian penting dalam pelayanan kepada masyarakat.

Baca Juga : May Day 2026, Ahmad Luthfi Sebut Buruh Pahlawan Penggerak Ekonomi Jateng

Menurut Nasaruddin, tenaga kesehatan harus memahami bahwa profesinya berkaitan langsung dengan keselamatan dan kualitas hidup manusia.

“Seorang ahli gizi bukan hanya menghitung kalori, tetapi menjaga kualitas hidup manusia. Demikian juga tenaga farmasi, bukan sekadar meracik obat, tetapi memastikan keselamatan dan kesembuhan,” katanya.

Menag juga menyoroti perkembangan teknologi kesehatan yang semakin pesat. Ia mengingatkan agar penggunaan teknologi tidak menghilangkan sisi kemanusiaan dalam pelayanan medis.

“Jangan sampai kita pintar membaca data, tetapi lupa membaca penderitaan manusia. Dalam Islam, menyembuhkan bukan hanya tindakan medis, tetapi juga tindakan spiritual,” tegasnya.

Baca Juga  KPK Sepakat dengan Menkeu: Korupsi Masih Jadi PR Utama Bangsa, Perlu Kolaborasi Semua Pihak

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin turut mengapresiasi model pendidikan berbasis pesantren yang diterapkan STIKes KHAS Kempek. Integrasi antara ilmu kesehatan modern dengan pembinaan akhlak dinilai mampu melahirkan tenaga kesehatan yang profesional sekaligus berintegritas.

“Ilmu adalah amanah dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, ilmu harus melahirkan manfaat dan memberi solusi bagi persoalan umat,” ucapnya.

Baca Juga : Roblox Batasi Fitur Chat Anak di Indonesia, Komdigi: Demi Keamanan Pengguna Bocah

Sementara itu, Ketua Yayasan KHAS Kempek, Muh. Mustofa Aqiel Sirodj, mengatakan sistem pendidikan pesantren dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kompetensi akademik dan pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi sarjana yang cerdas, tetapi juga tetap menjaga tradisi keilmuan pesantren dan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menambahkan, pengembangan STIKes KHAS Kempek merupakan bagian dari upaya pesantren menjawab kebutuhan tenaga kesehatan yang profesional sekaligus berkarakter. Lulusan diharapkan mampu berkiprah di dunia kerja dengan tetap menjadikan nilai keislaman sebagai landasan etika dan pengabdian kepada masyarakat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *