Menperin Sarmuji Targetkan Produktivitas Tenaga Kerja Manufaktur Rp147,7 Juta pada 2029

  • Bagikan
Arsip - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji. (Foto: Kemenperin/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan daya saing industri manufaktur nasional.

Menurut Sarmuji, pembangunan industri tidak cukup hanya mengandalkan investasi dan teknologi, tetapi juga membutuhkan tenaga kerja yang kompeten, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

“Pembangunan industri nasional tidak hanya membutuhkan investasi dan teknologi, tetapi juga SDM yang kompeten, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan industri,” kata Sarmuji dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan produktivitas tenaga kerja industri manufaktur meningkat dari Rp124,35 juta per orang pada 2025 menjadi Rp147,7 juta per orang pada 2029.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mendorong penyelarasan pendidikan dan pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri melalui pendekatan link and match serta penguatan sistem pendidikan ganda (dual system).

Baca Juga : NasDem Godok Sikap Resmi Terkait Putusan MK soal Gibran

Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan dengan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja. Kompetensi digital, otomasi, analisis data, hingga keamanan siber juga menjadi perhatian dalam pengembangan SDM industri.

Sejalan dengan upaya tersebut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin menjalankan program pendidikan dan pelatihan vokasi melalui 13 perguruan tinggi vokasi, sembilan sekolah menengah kejuruan (SMK), dan tujuh Balai Diklat Industri (BDI).

Program yang dijalankan mencakup pendidikan vokasi sistem ganda, pelatihan kompetensi, sertifikasi, inkubasi bisnis, serta pengembangan kompetensi Industri 4.0.

Pelaksana Tugas Kepala BPSDMI, Adie Rochmanto Pandiangan, mengatakan program pendidikan dan pelatihan dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata sektor industri. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kurikulum, peningkatan kompetensi tenaga pengajar, pembenahan infrastruktur pendidikan, serta kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri.

Baca Juga  PT. Global Equipment Nusatama Buka Kantor Baru: Siap Dominasi Pasar Alat Berat Kalimantan

Minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi industri juga terbilang tinggi. Hingga 30 Juni 2026, pendidikan tinggi vokasi mencatat 61.744 pendaftar dengan kuota 4.566 orang. Sementara itu, pendidikan menengah vokasi menerima 33.592 pendaftar untuk kuota 2.749 orang.

Baca Juga : Gus Ipul Makan Malam Bersama Siswa Sekolah Rakyat, Tekankan Kesungguhan Belajar

Adie menilai tingginya jumlah pendaftar menjadi peluang untuk menyiapkan talenta industri sejak dini. Namun, kualitas lulusan tetap perlu diperkuat agar sesuai dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.

Dalam sasaran pembangunan hingga 2029, BPSDMI menargetkan persentase SDM industri yang kompeten mencapai 89 persen. Adapun persentase lulusan pendidikan yang bekerja dan memiliki kompetensi ditargetkan sebesar 88 persen.

Melalui berbagai program tersebut, Kemenperin berharap ketersediaan tenaga kerja terampil semakin meningkat, sehingga produktivitas dan daya saing industri manufaktur nasional dapat terus diperkuat.

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *