Nusawarta.id – Surabaya. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya melalui Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Semampir berhasil menggelar Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Angkatan X. Acara ini berlangsung selama tiga hari, dimulai Jumat (20/12/2024) hingga Minggu (22/12/2024) di Pondok Tahfidhul Quran Sunan Giri, Surabaya.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 60 peserta yang datang dari berbagai daerah, seperti Palu (Sulawesi Tengah), Kubu Raya (Kalimantan Barat), Jember, Gresik, Madura, dan tuan rumah Surabaya. Beragamnya peserta menunjukkan daya tarik program kaderisasi ini, yang menjadi upaya NU memperkuat kaderisasi di tingkat nasional.
Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya, KH. Abdul Bari, menegaskan pentingnya program ini bagi seluruh kader NU. “Semua kader NU harus mengikuti PKPNU agar memahami dan mendalami cara ber-NU yang benar. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat organisasi,” ujarnya dalam sambutan pembukaan. Ia juga menekankan peran historis NU dalam pendirian NKRI dan tanggung jawab besar warga NU sebagai “pemilik saham Republik”.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh kalangan muda, tetapi juga peserta lanjut usia yang menunjukkan semangat luar biasa. Di antaranya, Joko Prayitno dari MWC NU Sawahan, yang meski dalam kondisi kesehatan terbatas tetap aktif mengikuti seluruh kegiatan. “InsyaAllah, ini jadi wasilah keberkahan dan kesehatan saya,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Peserta lainnya, Ibu Nuri Humaidah dari Muslimat NU Ampel, turut mencuri perhatian dengan dedikasinya meski usianya tidak muda lagi. “Untuk NU, saya selalu bersemangat. Semoga berkah,” ujarnya sembari tersenyum.
Keberagaman ini juga terlihat dari peserta muda seperti Muchammad Afif Muchtar, lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, yang dengan semangat mengikuti program kaderisasi sebagai perwakilan generasi NU di abad kedua.
Program ini menghadirkan instruktur nasional seperti KH. Hadi Purnomo (Gus Ipong) dan Ustadz Moh Subhan, yang dikenal memiliki pendekatan unik. “Gus Ipong tegas dan berwibawa, sementara Ustadz Subhan lembut dan humoris. Kombinasi ini membuat suasana pelatihan menjadi dinamis,” ungkap salah satu peserta.
Materi yang disampaikan tidak hanya seputar NU, tetapi juga isu sosial dan politik di tingkat nasional dan global. Peserta diajak memahami Aswaja dan NKRI, anatomi gerakan Islam, hingga dialektika pemikiran yang melatih daya kritis mereka.
Selain itu, kegiatan fisik seperti rihlah dan mujahadah sebelum Subuh menjadi bagian integral dari program, menciptakan harmoni antara kebugaran fisik dan rohani.
Program PD-PKPNU Angkatan X ini menjadi wujud nyata kesiapan NU menyongsong abad keduanya. Dengan materi yang komprehensif, disiplin ketat, dan suasana kaderisasi yang membangun, PCNU Kota Surabaya berhasil mencetak kader-kader penggerak yang siap menjawab tantangan zaman.
Acara ditutup dengan prosesi bai’at yang khidmat, disaksikan oleh jajaran pengurus PCNU Kota Surabaya dan MWC NU Semampir. Para peserta kembali ke daerah masing-masing dengan semangat baru untuk membangun NU yang lebih kuat dan berdaya guna. (Whd/Red)












