Nusawarta.id, Magelang – Anggota Komisi VII DPR RI, Muhammad Hatta, mengingatkan agar tidak terjadi lagi dualisme kepemimpinan di Keraton Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah. Ia menekankan pentingnya sikap saling legawa dan menjunjung tinggi musyawarah dalam menyelesaikan persoalan internal keraton yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi bagi bangsa Indonesia.
“Saling legawa, jangan sampai ada dualisme lagi seperti yang lalu. Semua masalah sebaiknya dimusyawarahkan bersama. Keputusan tertinggi dalam bangsa ini adalah musyawarah,” ujar Hatta di Magelang, Jumat (8/11), saat melakukan kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Standardisasi Desa Wisata Komisi VII DPR RI di Desa Wisata Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Menurut Hatta, persoalan kepemimpinan di lingkungan Keraton Surakarta harus disikapi secara bijak oleh semua pihak yang merasa memiliki keterikatan sejarah dan tanggung jawab terhadap pelestarian warisan budaya Jawa tersebut. Ia mengingatkan agar tidak ada lagi pihak yang mengaku sebagai raja baru sementara garis keturunan dan hak putra mahkota sudah jelas.
“Jangan sampai ada dualisme lagi seperti dulu, yang satu mengaku raja baru padahal ada putra mahkota yang sah. Saya kira hal ini harus dibicarakan secara arif dan bijaksana sebagai pewaris Keraton Surakarta,” tegasnya.
Politisi asal Solo itu juga menekankan pentingnya menjaga suasana kebersamaan dan kedamaian di tengah masyarakat. Ia menilai karakter masyarakat Solo yang dikenal adem ayem harus tetap dipertahankan agar tidak menimbulkan perpecahan atau konflik berkepanjangan.
“Sebagai warga Solo, saya ingin suasananya tetap adem ayem, tidak sampai terjadi dualisme lagi. Bagaimanapun, keraton adalah aset bangsa yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hatta mencontohkan Keraton Yogyakarta yang menurutnya telah menunjukkan proses suksesi dan kepemimpinan yang tertib dan damai. Ia berharap hal serupa dapat menjadi cerminan bagi Keraton Surakarta.
“Keraton Yogyakarta sudah bagus, proses suksesi berjalan adem ayem. Jangan sampai Solo yang usianya lebih tua justru memberikan contoh kurang baik. Jika konflik terus berlanjut, dikhawatirkan negara akhirnya harus turun tangan untuk mengatur internal keraton, dan itu tentu tidak kita harapkan,” tutur Hatta.
Ia menegaskan bahwa penyelesaian melalui musyawarah merupakan jalan terbaik untuk menjaga marwah di Keraton Surakarta sebagai simbol kebudayaan dan sejarah bangsa.












