Nusawarta.id, Jakarta — Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan sebagai bagian dari ibadah dalam Islam. Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan pada Seminar Internasional Fikih Lingkungan (Ekoteologi) di Al-Azhar Conference Center, Kairo, Mesir, Selasa (20/1/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa dan akademisi, Nasaruddin mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan merupakan bentuk penyimpangan dari tujuan ibadah dan pembangunan peradaban manusia.
“Dalam perspektif Islam, bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi yang harus dijaga keseimbangannya. Merusak lingkungan sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban,” ujar Nasaruddin.
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu menilai ekoteologi merupakan fondasi penting dalam membangun kesadaran kolektif umat Islam terhadap amanah menjaga alam. Menurutnya, relasi manusia dan lingkungan harus dibangun atas dasar tanggung jawab moral dan prinsip keseimbangan.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa relasi manusia dan lingkungan harus dibangun di atas prinsip amanah, tanggung jawab moral, dan keseimbangan,” jelasnya.
Baca Juga : Menag Nasaruddin Tegaskan Toleransi dan Kelestarian Alam Saat Peringatan Isra Mi’raj
Ia menambahkan, pengelolaan kemajuan tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan, tetapi juga membutuhkan nurani dan etika agar tidak merusak lingkungan hidup.
“Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga nurani dan etika dalam mengelola kemajuan,” imbuhnya.
Di sela kegiatan seminar, Menag Nasaruddin juga menyerahkan secara simbolis mushaf Alqur’an braille terbitan Kementerian Agama RI kepada Rektor Universitas Al-Azhar, Salama Gomaa Dawud.
Menanggapi hal tersebut, Rektor Al-Azhar Salama Gomaa Dawud menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia serta sejalan dengan pandangan Menag terkait kepedulian Islam terhadap lingkungan.
“Menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab institusi, melainkan kewajiban setiap individu, karena dampak kerusakan lingkungan akan dirasakan oleh seluruh umat manusia,” ujarnya.
Sementara itu, Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Kairo, Zaim Al Khalis Nasution, menyatakan bahwa penyelenggaraan seminar ini menegaskan kuatnya hubungan historis dan intelektual antara Indonesia, Mesir, dan Al-Azhar.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam memperkuat diplomasi keagamaan serta meneguhkan peran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).
“Kerja sama ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi pemikiran Islam dalam menghadapi tantangan global, khususnya isu lingkungan hidup,” tuturnya.
Dalam sesi seminar, Kepala Akademi Internasional Pelatihan Imam dan Pendakwah Al-Azhar Al-Sharif Hasan El Sagher serta Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI Mukhlis Hanafi memaparkan secara mendalam konsep fikih lingkungan. Pembahasan mencakup perspektif Alqur’an dan Sunnah dalam membangun etika lingkungan, penguatan kebijakan publik berbasis nilai keagamaan, serta peran strategis institusi keagamaan dalam edukasi ekologis.
Seminar internasional bertajuk “Tantangan Berinteraksi dengan Lingkungan dalam Tafsir dan Sunnah” ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Agama RI, Al-Azhar Al-Sharif, Kedutaan Besar RI di Kairo, serta Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir.
Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari kalangan ulama, dosen, peneliti, mahasiswa, dan pemerhati lingkungan sebagai upaya memperkuat kontribusi pemikiran Islam dalam menjawab krisis lingkungan global melalui pendekatan teologis, yuridis, dan etis.
Turut hadir dalam seminar ini Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Abbas Shouman serta Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) Amany Lubis.












