Indonesia-Rusia Perluas Kerja Sama Maritim, Garap PLTN Terapung hingga Industri Kapal

  • Bagikan
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menemui Penasihat Presiden sekaligus Ketua Dewan Maritim Rusia, Nikolai Patrushev di Moskow, Senin (1/6/2026). (Foto: Dok. Kemenko IPK/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Rusia memperluas kerja sama strategis di sektor infrastruktur maritim melalui sejumlah proyek konkret yang mencakup energi, industri galangan kapal, logistik, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam agenda Konsultasi Bilateral Kedua antara Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono dengan Penasihat Presiden Rusia sekaligus Ketua Dewan Maritim Rusia, Nikolai Patrushev di Moscow, Senin (1/6/2026).

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menitikberatkan pembahasan pada realisasi proyek-proyek strategis yang dinilai dapat memperkuat konektivitas dan ketahanan maritim kedua negara.

Di sektor energi dan manufaktur, PT PAL Indonesia bersama perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, tengah merampungkan nota kesepahaman untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Terapung atau Floating Nuclear Power Plant (FNPP). Langkah itu merupakan kelanjutan dari penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA) yang dilakukan pada April 2026.

Baca Juga : Dugaan Penyimpangan MBG Jadi Faktor Evaluasi Pimpinan BGN

Selain itu, PT PAL juga memperkuat kerja sama industri galangan kapal dengan Ak Bars Shipbuilding Corporation. Sementara di sektor logistik maritim, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) tengah menindaklanjuti pengembangan armada kapal berkecepatan tinggi bersama CIFREX.

Pemerintah Indonesia juga menyiapkan dukungan tenaga kerja terampil untuk menopang kerja sama tersebut. Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Luar Negeri RI disebut tengah menyusun skema pengiriman tenaga kerja sektor galangan kapal ke Rusia.

Menko AHY menegaskan, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan integrasi konektivitas antarmoda untuk menekan tingginya biaya logistik nasional. Menurut dia, pengalaman Rusia dalam pengembangan teknologi maritim dan transportasi dinilai relevan dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur Indonesia.

“Kerja sama ini tidak sekadar bertumpu pada hubungan diplomatik, tetapi bergerak menuju implementasi nyata di bidang ekonomi, konektivitas, teknologi, dan ketahanan wilayah,” ujar AHY didampingi Deputi Nazib Faizal dan Deputi Odo RM Manuhutu, dikutip Rabu (3/6/2026).

Baca Juga  Kementerian PU Tidak Terapkan WFH Jumat, Menteri Dody: Prioritaskan Kesiapsiagaan Bencana

Untuk memastikan realisasi seluruh proyek berjalan efektif, Indonesia dan Rusia juga sepakat membentuk tiga kelompok kerja (Pokja) operasional. Pokja pertama difokuskan pada pengembangan industri galangan kapal dan pelabuhan berkelanjutan. Pokja kedua menangani tata kelola sumber daya kelautan dan perikanan, sedangkan Pokja ketiga diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, riset, dan pelatihan maritim.

Baca Juga : Kejagung Datangi Kantor BGN Usai Pergantian Pimpinan, Sembilan Penyidik Pidsus Turun ke Lokasi

Kesepakatan tersebut menjadi tindak lanjut dari Deklarasi Kemitraan Strategis yang sebelumnya disahkan Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Vladimir Putin pada Juni 2025.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *