Wamendagri Bima Arya: Pemilu dan Kepemimpinan yang Berintegritas Perkuat Bangsa

  • Bagikan

Nusawarta.id, Manado Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan bahwa pemilihan umum (pemilu) dan kepemimpinan yang berintegritas merupakan dua pilar utama dalam memperkuat persatuan dan pembangunan bangsa. Hal ini ia sampaikan dalam dua kuliah umum yang digelar di Universitas Sam Ratulangi, Manado, serta di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Sulawesi Utara, Rabu (12/3/2025).

Di Universitas Sam Ratulangi, Bima menjelaskan bahwa pemilu adalah sarana demokrasi yang seharusnya memperkuat integrasi bangsa, bukan malah menjadi pemecah belah. Menurutnya, masyarakat Indonesia harus terbiasa dengan perbedaan dalam kontestasi politik, namun tetap bersatu setelah pemilu usai.

“Terbiasa berbeda, tetapi kemudian bersatu ketika pemerintahan berjalan. Jangan sampai pemilu malah memecah. Elite politik kita sebenarnya relatif cair,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa civitas academica memiliki peran penting dalam menjaga demokrasi agar tetap sehat. Kampus, kata dia, harus menjadi benteng bagi nilai-nilai demokrasi dan mencegah kembalinya praktik-praktik politik otoriter. Selain itu, netralitas penyelenggara pemilu juga menjadi isu krusial.

“Penyelenggara pemilu harus netral dan berkapasitas. Mereka tidak boleh terkontaminasi oleh kepentingan politik mana pun,” tegasnya.

Sementara itu, dalam kuliah umumnya di IPDN Sulut, Bima menyoroti aspek kepemimpinan yang efektif. Ia mengibaratkan seorang pemimpin seperti seorang konduktor dalam orkestra, yang harus memiliki tiga aspek utama: kompetensi, seni memimpin, dan intuisi.

Menurutnya, pemimpin harus memahami cara kerja sistem yang ia pimpin (kompetensi), memiliki keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan (seni), serta mampu membaca situasi dan mengambil keputusan dengan cepat (intuisi).

“Seperti seorang konduktor, pemimpin harus tahu nada yang dimainkan. Ia juga harus tahu kapan harus tegas dan kapan harus memberi ruang kepada timnya untuk berkembang,” jelasnya.

Baca Juga  NasDem Dorong Ambang Batas Parlemen Naik Jadi 7 Persen, DPR Belum Tindaklanjuti Putusan MK

Selain itu, Bima menegaskan bahwa kepemimpinan yang baik harus berlandaskan integritas, disiplin, dan konsistensi. Tanpa ketiga hal tersebut, seorang pemimpin bisa dengan cepat naik ke puncak, tetapi juga bisa jatuh dalam sekejap.

“From zero to hero, and back to zero again. Anda bisa naik dengan cepat, tetapi jika tidak menjaga integritas, Anda bisa jatuh lebih cepat dari yang Anda bayangkan,” pungkasnya.

Dengan pesan yang ia sampaikan dalam dua kesempatan ini, Bima berharap para mahasiswa dan praja IPDN dapat menjadi generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat dalam menjaga persatuan bangsa dan demokrasi yang sehat. (Ki/Red)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *