Mori Hanafi Kritik Lambannya Investigasi Tabrakan Kereta Bekasi Timur yang Tewaskan 16 Orang

  • Bagikan
Taksi listrik Green SM Indonesia yang terlibat dalam kecelakaan KRL-KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. (Foto: Kolasei Pixlr/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi, mengkritik lambannya pengungkapan penyebab kecelakaan kereta api di Bekasi Timur, Jawa Barat, yang menewaskan 16 orang pada akhir April lalu.

Kritik tersebut disampaikan menyusul insiden tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Dalam kecelakaan itu, sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban berada di gerbong belakang KRL yang mengalami kerusakan paling parah akibat benturan keras.

Mori menilai proses investigasi seharusnya dapat diselesaikan lebih cepat karena kasus tersebut dinilai tidak terlalu rumit untuk diungkap. Ia mempertanyakan alasan pemerintah yang hingga kini masih menyatakan penyelidikan berlangsung.

Baca Juga : Prabowo Gaungkan “Indonesia Incorporated”, Seluruh Rakyat Disebut Pemegang Saham Kekayaan Bangsa

“Kalau saya tanya Kepala Basarnas sekarang, saya yakin sudah tahu penyebab kecelakaannya. Ada Kepala KNKT, pasti sudah tahu apa penyebabnya. Kalau alasannya masih proses penyidikan, buat saya itu tidak masuk akal,” kata Mori di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).

Politikus Partai NasDem itu menilai lambannya penyampaian hasil investigasi justru memunculkan ketidakjelasan di tengah masyarakat mengenai evaluasi keselamatan transportasi nasional. Menurut dia, publik membutuhkan penjelasan resmi agar ada kepastian mengenai faktor penyebab kecelakaan sekaligus langkah perbaikan yang akan dilakukan pemerintah.

“Kecelakaan kereta di Bekasi itu tidak pelik. Sederhana. Kok sampai sekarang belum bisa disimpulkan apa sebabnya? Sudah berapa lama itu,” ujarnya.

Selain menyoroti kecelakaan kereta di Bekasi Timur, Mori juga menyampaikan keprihatinan terhadap rentetan kecelakaan transportasi yang terjadi dalam waktu berdekatan. Ia menyinggung kecelakaan bus ALS yang juga menewaskan 16 orang, serta kecelakaan kereta lain yang terjadi setelah insiden di Bekasi.

Baca Juga  Arsul Sani Buka Ijazah Doktornya ke Publik, Jokowi Masih Tolak Publikasikan Ijazah

Menurut Mori, kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan standar keselamatan transportasi di Indonesia. Ia meminta pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, memperkuat pengawasan operasional moda transportasi guna mencegah tragedi serupa terulang kembali.

Baca Juga : Pemprov DKI Siapkan Sanksi Berlapis untuk Pengelola Parkir Nakal, Blok M Square Jadi Sorotan

“Saya terus terang kecewa. Ini menjadi tanggung jawab Kementerian Perhubungan. Belum selesai satu kasus, muncul lagi kecelakaan berikutnya,” kata dia.

Mori menegaskan investigasi terhadap setiap kecelakaan transportasi harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Ia menilai keterbukaan informasi penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus memastikan rekomendasi keselamatan benar-benar dijalankan oleh seluruh pihak terkait.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *