Mentan: Optimasi Lahan Sawah untuk Perkuat Swasembada Beras

  • Bagikan
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Hermanto. (Foto: Kementerian Pertanian/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas padi melalui program optimasi lahan yang menargetkan pemanfaatan lahan sawah eksisting agar dapat meningkatkan indeks pertanaman. Program ini menjadi salah satu strategi utama dalam memperkuat upaya swasembada beras nasional, tanpa harus membuka lahan pertanian baru.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), Hermanto, mengatakan bahwa optimasi lahan menjadi fokus utama untuk meningkatkan produksi padi dengan memaksimalkan lahan yang sudah ada.

“Kami mendapat arahan langsung dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk menggiatkan optimasi lahan, sehingga sawah yang sebelumnya hanya satu kali tanam bisa didorong menjadi dua hingga tiga kali tanam per tahun,” ujar Hermanto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (3/1/2026).

Menurut Hermanto, optimasi lahan dilakukan melalui berbagai langkah teknis, termasuk perbaikan infrastruktur pertanian. Langkah-langkah tersebut mencakup penyusunan Survei, Investigasi, dan Desain (SID) pembangunan serta rehabilitasi tanggul, pintu air, dan jaringan irigasi maupun drainase di tingkat usaha tani.

Baca Juga : Kementan Pastikan Pasokan Pangan Aman dan Harga Stabil Jelang 2026

Selain itu, program optimasi lahan juga menyediakan fasilitas pendukung bagi petani, seperti pembangunan unit pompa air beserta perlengkapannya, pengolahan lahan dengan alat dan mesin pertanian, serta bantuan olah lahan pasca-optimasi. Hermanto menambahkan bahwa program ini difokuskan pada sawah dengan indeks pertanaman di bawah dua, sehingga lahan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dan berkelanjutan.

“Di lapangan sudah terlihat hasilnya. Produktivitas meningkat, panen bisa lebih dari dua kali, dan pendapatan petani ikut naik,” kata Hermanto.

Dari sisi capaian, realisasi program optimasi lahan hingga 1 Januari 2026 menunjukkan kemajuan signifikan. Survei, Investigasi, dan Desain (SID) telah terealisasi hingga 98,64 persen dari target 500.000 hektare yang ditetapkan untuk tahun 2025. Sementara itu, progres konstruksi optimasi lahan telah mencapai sekitar 78 persen, yang tersebar di 24 provinsi sentra pertanian di Indonesia.

Baca Juga  Indonesia Perkokoh Ketahanan Pangan di Tengah Ancaman Krisis Global

Hermanto menjelaskan bahwa pelaksanaan program di beberapa daerah masih berlanjut hingga Maret 2026 melalui mekanisme Rencana Pelaksanaan Anggaran Tahunan (RPATA), sesuai ketentuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84 Tahun 2025.

Pemerintah pusat akan terus mengawal pelaksanaan program ini agar kebutuhan beras nasional dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri secara berkelanjutan.

Baca Juga : Pupuk Indonesia–Kementan Teken Kontrak Penyaluran Pupuk Bersubsidi 2026 Sebesar 9,8 Juta Ton

“Harapannya, optimasi lahan mampu memenuhi kebutuhan beras nasional dari produksi dalam negeri dan mewujudkan swasembada beras secara berkelanjutan,” tegas Hermanto.

Program optimasi lahan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional dengan memaksimalkan lahan yang sudah ada, tanpa menimbulkan tekanan terhadap lingkungan akibat pembukaan lahan baru.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *