Kolaborasi Kementan–TNI Dikebut, 101 Ribu Hektare Cetak Sawah Harus Tuntas Sebulan

  • Bagikan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan keterangan kepada awak media seusai menghadiri acara 'Retret Bela Negara PWI' di Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/1/2026). (Foto: Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat realisasi program cetak sawah rakyat (CSR) seluas 101.503 hektare melalui kolaborasi strategis dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat swasembada pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim ekstrem yang kian nyata.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, percepatan program CSR merupakan instrumen penting dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Ia meminta seluruh jajaran Kementan, pemerintah daerah, serta TNI, termasuk Babinsa di lapangan, untuk bergerak cepat menyelesaikan kontrak cetak sawah dalam waktu satu bulan ke depan.

“Waktunya tinggal satu bulan. Target kontrak cetak sawah 101.000 hektare harus diselesaikan. Saya minta seluruh jajaran, termasuk TNI, bergerak cepat dan bekerja total. Ini penentu,” ujar Mentan Amran di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, keterlibatan TNI dalam program strategis ini merupakan bentuk kolaborasi nasional menghadapi tantangan iklim global yang semakin tidak menentu. Fenomena iklim ekstrem, termasuk potensi El Nino, menjadi alarm bagi Indonesia untuk mempercepat perluasan lahan pertanian produktif agar produksi pangan tetap terjaga.

Baca Juga : Mentan Amran Ancam Cabut Izin Produsen dan Importir Nakal Jelang Ramadan

“Iklim ekstrem bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban kita untuk tetap bersiap. Kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Karena itu, TNI, pemerintah daerah, dan seluruh jajaran harus turun tangan. Ini perintah strategis untuk menjaga kedaulatan pangan,” tegasnya.

Mentan Amran mengingatkan, pengalaman krisis pangan global saat El Nino 2023–2024 harus menjadi pelajaran berharga. Pada periode tersebut, sejumlah negara produsen membatasi ekspor beras, sehingga memicu gejolak harga dan pasokan di pasar internasional. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kemandirian pangan, terutama bagi negara dengan jumlah penduduk besar seperti Indonesia.

Baca Juga  34 Ribu Bangunan Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Target Tambah 10 Ribu Unit Baru

“Indonesia tidak boleh bergantung pada impor. Perluasan areal tanam melalui pencetakan sawah baru menjadi langkah strategis untuk memperkuat produksi dalam negeri,” ujarnya

Percepatan CSR akan difokuskan pada sejumlah provinsi prioritas, antara lain Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Papua Selatan (Merauke), Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Papua Barat Daya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Jambi, Bengkulu, Kalimantan Barat, Riau, serta Kalimantan Utara.

Baca Juga : Mentan: Optimasi Lahan Sawah untuk Perkuat Swasembada Beras

Ia menambahkan, target penyelesaian kontrak hingga Maret 2026 harus menjadi prioritas bersama dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia, baik dari sisi teknis, pendanaan, maupun dukungan personel di lapangan.

Sebagai informasi, pemerintah menargetkan cetak sawah baru seluas 225.000 hektare pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 110.000 hektare masih dalam tahap penyelesaian dan kini menjadi fokus percepatan. Sementara pada 2026, target cetak sawah dinaikkan menjadi 250.000 hektare sebagai upaya memperkuat fondasi produksi nasional secara berkelanjutan.

Dengan percepatan ini, Kementan optimistis ketahanan pangan nasional dapat semakin kokoh, sekaligus mengurangi risiko krisis pangan di masa depan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *