Nusawarta.id, Jakarta – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) memperkuat dukungan pemulihan pascabencana banjir di Aceh Tamiang, Aceh, melalui penyediaan konektivitas digital yang andal di kawasan Hunian Danantara (Huntara). Upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat terdampak dapat segera kembali beraktivitas secara normal dengan dukungan layanan telekomunikasi yang memadai.
Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan program Hunian Danantara merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin masyarakat terdampak bencana memperoleh tempat tinggal yang layak dan aman. Menurutnya, pembangunan Huntara tidak hanya berfokus pada penyediaan hunian fisik, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, termasuk akses konektivitas digital.
“Program Hunian Danantara merupakan wujud kehadiran negara untuk memastikan saudara-saudara yang tertimpa bencana dapat tinggal secara layak,” ujar Dony dalam keterangan bersama Telkom di Jakarta, Jumat.
Ia menegaskan, momentum ini mencerminkan komitmen kuat negara dan BUMN dalam mempercepat pemulihan pascabencana melalui kolaborasi strategis lintas sektor.
Baca Juga : Telkom Catat Kinerja Cemerlang di Kuartal I 2025, Laba Bersih Tembus Rp5,8 Triliun
Dony menambahkan, keberadaan fasilitas WiFi gratis di kawasan Huntara menjadi bagian penting dalam mendukung proses pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Fasilitas di dalamnya termasuk dengan WiFi gratis agar masyarakat tetap terhubung, memperoleh informasi, serta mempermudah koordinasi bantuan selama masa pemulihan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Dian Siswarini, menyampaikan bahwa TelkomGroup berperan aktif menghadirkan jaringan telekomunikasi yang andal di kawasan Huntara, khususnya di Aceh Tamiang. Dukungan ini merupakan bagian dari sinergi BUMN dalam mendukung inisiatif pemerintah melalui Danantara yang menjadikan Huntara sebagai proyek strategis nasional.
“Melalui sinergi Danantara dan BUMN, TelkomGroup berkomitmen mendukung penyediaan Huntara bagi masyarakat terdampak bencana melalui ketersediaan konektivitas digital yang andal,” ujar Dian.
Ia menegaskan, konektivitas digital menjadi kebutuhan dasar yang penting agar masyarakat tetap dapat mengakses informasi, menjaga komunikasi dengan keluarga, serta mendukung aktivitas pendidikan dan ekonomi selama masa pemulihan.
Secara nasional, hingga tiga bulan ke depan ditargetkan sebanyak 15.000 unit Huntara yang tersebar di tiga provinsi terdampak bencana siap untuk dihuni. TelkomGroup menyatakan komitmennya untuk terus mendukung layanan telekomunikasi digital di seluruh kawasan tersebut seiring dengan progres pembangunan Huntara.
Untuk mendukung operasional dan aktivitas masyarakat di kawasan Huntara Aceh Tamiang, TelkomGroup telah menyiapkan infrastruktur konektivitas secara bertahap. Pada tahap awal, TelkomGroup menyediakan 28 access point (AP) WiFi, yang terdiri dari tiga AP di area depan Huntara dan 25 AP di dalam area hunian. Setiap satu AP dirancang untuk menjangkau hingga tiga unit rumah.
Selain itu, TelkomGroup juga mengimplementasikan satu access point WiFi Managed Service (WMS) berkapasitas 100 Mbps yang ditempatkan di Posko TelkomGroup Huntara. Layanan ini ditujukan untuk mendukung kebutuhan operasional dan koordinasi di lapangan. Ke depan, TelkomGroup berencana menghadirkan total 63 AP WMS yang tersebar di seluruh area Huntara guna memastikan konektivitas yang merata dan berkelanjutan.
Baca Juga : TelkomGroup Lepas 2.300 Pemudik, Pastikan Program Mudik Gratis Aman Sampai Tujuan
Dari sisi layanan seluler, Telkomsel turut memastikan kesiapan jaringan dengan dukungan Base Transceiver Station (BTS) dari wilayah Karang Baru dan Aceh Tamiang. Selain itu, satu Mobile BTS (Combat) juga dioperasikan dan ditempatkan langsung di area Huntara untuk meningkatkan kapasitas jaringan dan menjaga kualitas layanan komunikasi bagi masyarakat terdampak.
Melalui penguatan konektivitas digital ini, TelkomGroup berharap kehadiran Huntara tidak hanya menjadi solusi tempat tinggal sementara, tetapi juga menjadi ruang pemulihan yang mendukung aktivitas sosial, ekonomi, dan komunikasi masyarakat Aceh Tamiang secara berkelanjutan pascabencana.












