Dari Ontel ke Doktoral: Epik Juang Dedi Berefek Wisudawan Terbaik

  • Bagikan
Dedi Wahyudi
Dok. Dedi Wahyudi (istimewa)

Oleh: Syatria Adymas Pranajaya, Pemerhati Fenomena Sosial, Pendidikan, Agama, Budaya, Kuliner, Wisata

Nusawarta.id, Inspirasi Dari balik toga yang dikenakan dan gelar yang diumumkan di podium wisuda, selalu ada kisah perjuangan yang tak kasatmata—berjalan sunyi di balik sorak sorai dan karangan bunga.

Di sana, tersimpan cerita tentang keringat yang jatuh tanpa saksi, tangis dalam sunyi, serta tekad yang ditempa waktu dan prinsip diri.

Setiap lulusan membawa sejarah hidupnya sendiri. Ada yang tiba di titik itu dengan segala privilege, tapi tak sedikit pula yang menapakinya dengan peluh dan kerja yang tak ter-image.

Bagi sebagian orang, wisuda hanyalah akhir dari studi akademik. Namun bagi yang lain, ia adalah epik panjang yang berisi pertarungan dengan keterbatasan, keprihatinan, dan rasa pesimis yang harus dilawan.

Belum lagi yang paling klasik dan dianggap utama bagi kebanyakan irisan masyarakat, adanya keterbatasan finansial, Inilah salah satu hal-ihwal yang masih ada pada wajah Pendidikan di Indonesia yang tetap menjadi PR khusus, biasanya tidak ada program-program subsidi maupun Beasiswa dari Negara maupun dari Corporate yang peka dan peduli terhadap pendidikan sosial Masyarakat.

Padahal pendidikan sendiri adalah Amanah pasal 31 ayat 3 dan 4 UUD 1945 bagi Pemerintahan beserta anggarannya. Dilanjutkan, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dengan harapan, bahwa pendidikan dapat meningkatkan kualitas serta kesejahteraan hidup keluarga masyarakat Indonesia.

Ada kala seseorang yang ingin serius melanjutkan kuliah tapi tersandung karena “kuliah itu mahal” maka peran penting Pemerintah selaku decision maker sangat diharapkan. Ada kala seseorang yang orang tua sejahtera finansial tapi tidak berkenan lanjut pendidikan dengan berbagai alasan.

Apapun itu asalkan si anak tidak membuat orang tua merasa kesal dan “sial” dengan perilaku dan karakter negatif si anak, apabila hal-hal negatif terlanjur “mengkarakter” pada anak, maka pemerintah-pun sudah semestinya punya andil dengan amanah kebijakannya, apakah dimasukkan ke Depo Pendidikan (DODIK) seperti Kang Dedi Mulyadi? Atau ada solusi alternatif yang lebih menarik? Nah itu tidak akan dibahas ditulisan ini, karena Dedi di sini bukan Kang Dedi Mulyadi!!!

Maka dalam sudut pandang dunia, kadang kala sering kali suatu kesuksesan diukur hanya dari latar belakang dan privilege seseorang saja. Kali ini salah satu kisah inspiratif yang sayang bila tidak ditulis mediakan dari seorang Doktor baru dalam bidang PAI, Dedi Wahyudi, menjadi bukti bahwa ketekunan ikhtiar dan doa yang diyakini akan mampu menembus batasan-batasan tertentu meski dalam suatu keterbatasan.

Pak De’ (dari kata Dedi) adalah sapaan hormat penulis kepada Dr. Dedi Wahyudi, M.Pd.I yang lahir di Kebumen – Jawa Tengah, pada 3 Januari 1991 sebagai anak sulung dari dua bersaudara di keluarga yang bersahaja dan harmonis — dengan profesi Ayahanda sebagai seorang penjahit dan Ibunda sebagai pedagang di pasar — namun epik perjuangan orang tua, keluarga, serta pribadi Dedi dalam menapaki jalan pendidikan sedikit banyak telah menempa mentalitas unik dan khas dalam setiap perjalanan hidupnya.

Baca Juga  Datangi Rektorat UGM, KAGAMA Kalsel Usulkan Kerja Sama Dengan Perusahaan Untuk Program Beasiswa
Awal Epik Juang: Sepeda Ontel dan Proposal Hidup

Di balik gelar Doktor cumlaude-nya sekarang, ternyata banyak pengalaman yang mampu membuat Dedi bisa tegar, sabar, penuh perhitungan, penuh dengan kewaspadaan, dan penuh dengan planning untuk masa depan.

Sejak di SMAN 2 Kebumen, Dedi telah memproyeksikan “dream book” yang diisi dengan harapan/impian/cita-citanya, bahkan buku reminder tersebut dihias tempelan foto idolanya sebagai self-motivation.

Sekarang buku impian tersebut ditransformasikan menjadi “proposal hidup” pada blognya “Podoluhur” sesuai perkembangan zaman IT yang wajib dia update per tahunnya terkait target hidup, termasuk mengalungi gelar kehormatan sebagai profesor sebelum berumur 40 tahun kelak.

“Kalau baca itu, kaya dapat energi,” imbuh Dedi. Kebiasaan ini telah membentuk karakter visioner untuk selalu berorientasi pada tujuan jangka Panjang, seolah sangat faham bahwa hidup ini memang harus dirancang, bukan hanya sekedar diterjang tanpa planning yang matang.

Dedi Wahyudi
Dedi Wahyudi bersama Istri (kiri) dan rekan alumni dan dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh (istimewa)

Perjuangan yang pernah Dedi bagikan ke publik diantaranya kesabaran mengayuh roda sepeda ontel yang setia menemaninya dari bangku SMPN 3 dan SMAN 2 Kebumen, juga pada saat nyantri di Ponpes. Miftahul Anwar Pekeyongan-Podoluhur-Klirong, hingga Kuliahnya di kota Jogja.

Dengan jarak tempuh belasan bahkan puluhan kilometer demi belajar untuk menggapai cita-cita serta membanggakan orang tuanya. Bahkan Dedi biasa mengayuh roda ontelnya hingga 97,5 KM untuk dapat pulang ke kampung halaman demi bertemu keluarga dan membantu mereka di Pasar.

Terbesit juga sebutan ‘konter berjalan’ yaitu apa yang dilakoni Dedi dalam menjajakan pulsa sebagai tambahan jajan serta keperluan kuliahnya seperti membeli buku dll. Hal-hal prihatin tersebut ternyata membuahkan hasil sebagai lulusan S1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Tahun 2011 dengan predikat cumlaude dan tercepat.

Lanjut Studi: Tantangan vs Prestasi

Keterbatasan ekonomi tidak menghalanginya untuk melanjutkan isi “dream book” demi S2 di almamaternya dan tetap pada scope PAI, meskipun mesti ambil pinjaman serta bekerja sebagai guru honorer, hingga daya juang dan doa tidak mengkhianati hasil, ia kembali lulus di Tahun 2013-2014 dengan predikat cumlaude dan tercepat sebagai Magister PAI.

Rintangan ujian tetap datang, dimana indra lihatnya mengalami masalah serius sejak di SDN 4 Kedawung. “Pandangan kabur, semakin lama semakin tebal minusnya”, tambah Dedi. Untuk membaca dengan jelas, Dedi harus mendekatkan buku atau layar ke beberapa senti di depan mata.

Baca Juga  Hari Konsumen, Harinya Siapa?

Bahkan hingga ia membina rumah tangga dengan Nuryah, M.Pd.I yang dikaruniai 2 orang putri, hijrah, dan mengabdikan diri sebagai Dosen ASN di IAIN Metro Lampung yang sekarang telah beralih status menjadi UIN Jurai Siwo Lampung, baru penyakit matanya tersebut didiagnosis adalah katarak, hingga akhirnya harus dioperasi pada tahun 2020 silam. “Waktu itu saya khawatir, karena seorang Dosen harus banyak membaca, mengetik dan melihat wajah mahasiswa. Bagaimana jika kenikmatan itu diambil Allah?” pungkas Dedi kala itu.

Efek Ikhtiar dan Doa: Wisudawan dan IPK Terbaik

Perjalanan akademiknya berlanjut ke jenjang doktoral di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, di mana ia berhasil meraih gelar doktor dengan IPK sempurna 4.0 dalam waktu 6 semester. Prestasi ini tidak hanya mencerminkan kognisinya, tetapi juga dedikasi dan kerja keras yang komitmen.

Serta spirit tirakat spritualnya yang konsisten, seperti ibadah tambahan disepertiga malam, puasa Daud dll. Dengan kata lain semua itu adalah proses demi progres serta harus adanya keseimbangan dari sisi lahiriyah dan sisi batiniyah.

Karena keuletannya itulah, Dedi juga menjadi awardee Beasiswa dari PT. Djarum waktu S1/S2, KEMENAG RI, Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Angkatan Pertama Tahun 2022 ketika S3.

Melalui BIB-LPDP, Dedi berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di bidang Pendidikan Agama Islam di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, yang dipromotori oleh Prof. Dr. H. Jamaluddin Idris, M.Ed dan Ibu Misbahul Jannah, M.Pd., Ph.D, yang lagi-lagi mengantongi predikat cumlaude dan tercepat Tahun 2025 dengan IPK tertinggi (4.00).

Makna Kesuksesan Serta Harapan

Kini, purna pendidikannya di Serambi Mekah, kota seribu kenangan di ujung paling Barat Nusantara demi menulis “Kitab Disertasi” bersama Rakan-Rakan seperjuangan yang notabane-nya berasal dari Kalimantan, Solo, Palembang, Padang, Bangka Belitung, Bener Meriah, Lhoksemawe, dan Bireuen.

Sekarang “Kitab Disertasi” tersebut bersama Ijasah asli yang terverifikasi tinggal dibawa ke kota pengabdiannya di Lampung, dan siap untuk diimplementasikan demi mencerdaskan serta memanusiakan manusia didiknya dalam fokus Pendidikan Agama Islam.

Instrumen-instrumen ilmu, adab, dan pengalaman yang telah dikantonginya sewaktu di wilayah KOPELMA Darussalam Banda Aceh, akan selalu diaplikasikan dalam profesinya, khususnya jaringan pertemanan Nusantara akan terus dipupuk dengan collaboration dalam bidang akademik agar berfaedah dan bermaslahat bersama-sama dengan ummat.

Ia berujar, “Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya untuk saya pribadi, tapi juga untuk keluarga, guru, dan semua yang pernah mendukung perjalanan saya”. Ini menandakan bahwa keberhasilan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan hasil kolaborasi dan ikhtiar bersama.

Baca Juga  Takbirkan Ekonomi Halal: Banjarmasin, Kota Intan Menuju Puncak Kebesaran Halal Global

Dedi juga menambahkan bahwa gelar doktor bukanlah titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. “Gelar ini adalah amanah untuk terus belajar, mengajar, dan berkontribusi pada pembangunan bangsa”. Serta tidak lupa untuk melanjutkan proposal hidupnya.

Inspirasi Generasi Muda dan Refleksi Manfaat Beasiswa

Kisah Dedi menjadi inspirasi penting bagi generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dedi menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan halangan utama untuk meraih pendidikan tinggi. Melalui kerja keras, manajemen waktu yang baik, dan semangat pantang menyerah, siapa pun dapat membuka peluang emasnya.

Pesan motivasi yang dapat dipetik bagi para pejuang ilmu di semua tingkatan, Buatlah proposal hidup kalian sendiri. Tuliskan mimpi dan target dengan pasti. Dengan begitu, kalian punya peta yang membimbing langkah setiap hari.

Hal ini tentunya relevan dalam era di mana banyak generasi muda mudah terombang-ambing oleh perubahan dan tekanan sosial. Dari cerita Dedi juga menegaskan pentingnya mencari beasiswa sebagai sarana mendukung pendidikan.

Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) – LPDP membantu Dedi mewujudkan impian tanpa harus khawatir soal biaya kuliah. Ini harus menginspirasi bagi para pelajar untuk aktif mencari dan memanfaatkan berbagai fasilitas pendidikan yang ada dengan mempersiapkan semua persyaratan yang ditentukan.

Dedi menjadi bukti nyata keberhasilan program ini. Selain mampu meraih prestasi akademik, ia juga menjadi contoh bahwa beasiswa dapat memotivasi penerima untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

Akhirnya, Kisah Dedi Wahyudi dapat dijadikan cermin dari semangat juang yang tidak mengenal kata menyerah. Dari roda ontel menuju retorika doctoral, berawal dari epik perjuangan, berefek pada gelar terbaik wisudawan.

Perjalanan hidupnya adalah inspirasi bagi siapa saja yang ingin menembus keterbatasan dan meraih impian melalui pendidikan. Dengan ketekunan ikhtiar, manajemen waktu, doa semua pihak, serta dukungan program beasiswa, Dedi membuktikan bahwa prestasi akademik akan meningkatkan taraf, kualitas, dan kesejahteraan hidup.

Sebagai lulusan doktoral terbaik, dosen muda, pengelola jurnal, dan peneliti aktif, Dedi siap membawa angin segar bagi pengembangan Pendidikan Agama Islam di kampusnya. Harapannya, lebih banyak generasi muda yang termotivasi untuk mengikuti jejaknya, dan bagi Pemerintah NKRI, serta lembaga Pendidikan secara keseluruhan supaya terus memperkuat dukungan-dukungannya, sehingga talenta juga prestasi anak bangsa dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal dan optimal. Wallahu a’lam bis ash-shawab.

Baca juga: Zain Maulana: Pemuda Jangan Jadi Korban Adu Domba Radikalisme

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *