Luhut Binsar Akui Proyek Whoosh Tak Beres Awalnya

  • Bagikan
Asrul Sani, Hakim MK, dalam sidang putusan perkara 15/PUU-XXIII/2025 di Jakarta, Kamis (16/10). MK putuskan penangkapan jaksa tanpa izin Jaksa Agung dimungkinkan dalam kasus OTT atau pidana berat.

Nusawarta.id, Jakarta Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap bahwa pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang kini bernama Whoosh sempat dilanda berbagai permasalahan serius, mulai dari pembengkakan biaya hingga persoalan teknis di lapangan.

Dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (16/10), Luhut Binsar Panjaitan menyebut proyek tersebut dalam kondisi buruk saat dirinya mulai menangani.

“Jadi memang saya menerima proyek (Whoosh) sudah busuk itu barang.” Ujarnya.

Baca Juga : KPK Tanggapi Penyataan Mahfud MD Atas Dugaan Mark Up Proyek Whoosh

Salah satu masalah utama yang muncul dalam pembangunan KCJB adalah pembengkakan anggaran. Berdasarkan catatan, nilai investasi proyek awalnya ditawarkan China sebesar US$6,07 miliar atau sekitar Rp86,67 triliun (kurs Rp14.280 per dolar AS). Namun, nilai itu melonjak menjadi US$7,2 miliar atau setara Rp116,54 triliun (kurs Rp16.186 per dolar AS).

Tak hanya itu, pembangunan proyek juga dinilai serampangan. Salah satunya terjadi pada pembangunan pilar LRT oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) di KM 3+800 yang dilakukan tanpa izin. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebut pembangunan tersebut berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

PUPR juga menyoroti buruknya pengelolaan sistem drainase proyek, yang menyebabkan genangan air di Tol Jakarta-Cikampek dan menimbulkan kemacetan.

Karena pelanggaran-pelanggaran tersebut, Komite Keselamatan Konstruksi Kementerian PUPR sempat menghentikan sementara pelaksanaan proyek melalui surat bernomor BK.03.03-Komite k2/25 yang diterbitkan pada 27 Februari 2020.

Sebagai respons terhadap kekacauan tersebut, Presiden Joko Widodo membentuk Komite Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2021. Komite ini dipimpin langsung oleh Luhut Pandjaitan.

Baca Juga : MK Putuskan Penangkapan Jaksa Tak Perlu Izin Jaksa Agung dalam Kasus Tertentu

Sejak saat itu, berbagai langkah perbaikan dilakukan. Luhut mengatakan audit proyek melibatkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta negosiasi ulang dengan pihak China.

Baca Juga  Buruh Menanti, Upah Minimum Bakal Naik Lewat PP Baru yang Ditandatangani Presiden

“Negosiasi akhirnya berjalan lancar, dan proyek Whoosh bisa diselesaikan,” ujar Luhut.

Meski proyek telah rampung, masih tersisa utang yang cukup besar. Sebanyak 75 persen dari total biaya proyek sebesar US$7,2 miliar berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB).

Kini, Kereta Cepat Whoosh telah beroperasi, menjadi proyek transportasi modern pertama di Indonesia yang diharapkan dapat mempercepat konektivitas Jakarta dan Bandung serta menjadi simbol kerja sama strategis Indonesia-China.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *