Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH Pasca Lebaran, Sasar Efisiensi BBM di Tengah Gejolak Harga Minyak Dunia

  • Bagikan
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) bersama Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kri) sampaikan paket ekonomi juga terkait stimulus perekonomian. (Foto: Youtube Sekretariat Presiden)

Nusawarta.id, Jakarta — Pemerintah berencana menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) serta pekerja swasta setelah masa libur Lebaran 2026 berakhir. Kebijakan ini akan diberlakukan secara terbatas, dengan tujuan utama menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah ketidakpastian harga minyak global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kebijakan WFH tidak akan berlaku untuk seluruh sektor. Ia menyebutkan bahwa sektor layanan publik tetap diwajibkan bekerja dari kantor demi menjaga kelancaran pelayanan kepada masyarakat.

“Khusus pekerja sektor layanan publik tetap kerja di kantor. Ini untuk ASN dan imbauan kepada swasta. Tetapi yang tidak, bukan pelayanan publik, koordinasi dengan Kemenaker dan Mendagri,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (24/3/2026).

Baca Juga : Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH Usai Lebaran 2026, Targetkan Hemat Energi hingga 20 Persen

Airlangga menjelaskan, skema WFH yang tengah disiapkan pemerintah akan diterapkan selama satu hari dalam sepekan. Kebijakan ini masih dalam tahap perumusan teknis lintas kementerian dan direncanakan mulai berlaku setelah periode Lebaran usai.

Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari strategi mitigasi terhadap lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, serta Amerika Serikat dinilai memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas pasokan energi global.

Senada dengan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa kebijakan WFH tidak bisa diterapkan secara menyeluruh. Ia menilai ada sejumlah jenis pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik sehingga tidak efektif jika dilakukan dari jarak jauh.

“Nanti libur terus. Nanti enggak kerja-kerja. Ya WFH biar gimana tuh kadang-kadang ada hal-hal yang enggak bisa dikerjakan dengan baik dengan WFH,” ujar Purbaya.

Baca Juga  Azis Subekti: Stok Beras 5 Juta Ton Harus Diikuti Stabilitas Harga dan Rantai Pasok Kuat

Meski demikian, ia menyebutkan bahwa kebijakan ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap penghematan BBM. Berdasarkan perhitungan sementara, penerapan WFH satu hari dalam sepekan dapat menekan konsumsi BBM hingga sekitar 20 persen.

“(WFH bisa menghemat) seperlima, kira-kira 20 persen penggunaan BBM,” katanya.

Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak dunia terus meningkat. Lembaga keuangan global Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah Brent naik menjadi 112,42 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai 98,51 dolar AS per barel.

Baca Juga : Pemprov DKI Perpanjang PJJ dan WFH hingga 1 Februari 2026, Antisipasi Curah Hujan Tinggi

Kenaikan ini dipicu oleh ancaman Presiden Donald Trump terkait kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Iran apabila akses di Selat Hormuz terganggu. Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak akan terus mengalami tren kenaikan setidaknya hingga awal April 2026, selama pasokan melalui jalur tersebut masih terbatas.

Pemerintah berharap kebijakan WFH dapat menjadi salah satu solusi jangka pendek untuk menekan konsumsi energi nasional, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global yang belum menentu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *