Nusawarta.id, Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mendorong wirausahawan daerah memperluas akses pasar dan kemitraan bisnis hingga tingkat global melalui Program IDE.IND. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing pelaku ekonomi kreatif di pasar nasional maupun internasional.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pengembangan ekonomi kreatif harus dimulai dari daerah dengan memperkuat kapasitas pelaku usaha, inovasi produk, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas.
“Kegiatan hari ini memberikan contoh yang baik, bagaimana kolaborasi itu terjadi. Selain pemerintah pusat dan daerah, kampus dan komunitas kreatif pun aktif bersinergi. Mari kita dorong karya kreativitas Kota Cirebon menjadi kekuatan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan,” ujar Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Baca Juga : Hadar Nafiz Minta KPU Proaktif Beri Masukan Revisi UU Pemilu
Melalui program IDE.IND, Kemenekraf menghadirkan showcase yang melibatkan 12 jenama lokal dari delapan subsektor ekonomi kreatif. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, meningkatkan daya saing, sekaligus membangun jejaring dengan calon mitra bisnis.
Produk yang ditampilkan beragam, mulai dari gim digital, aplikasi, konten digital, teknologi informasi, kuliner, fesyen, hingga kriya. Di antaranya permainan papan lokal, platform novel digital, simulator excavator, perangkat lunak berbasis SaaS, batik, serta kerajinan logam.
Program ini mengusung semangat Local Hero to National, National Champion to Global, yakni mendorong jenama daerah berkembang menjadi usaha kreatif yang mampu menjangkau pasar lebih luas.
Selain pameran, Kemenekraf juga menggelar ASTA One Minute Startup Challenge 2026 yang diikuti 10 tim mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Cirebon dan sekitarnya.
Baca Juga : Wamen HAM Dorong DPR Percepat RUU Penyadapan Usai Kasus Dugaan Penyadapan Ilegal
Kompetisi tersebut dimenangkan Jelvora, jenama mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon yang mengembangkan sabun berbahan limbah minyak jelantah. Produk tersebut telah dipasarkan melalui lokapasar dengan nama Jelantara.
Ketua Pusat Inkubator Bisnis dan Wirausaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Rita Kusuma Dewi, mengapresiasi kompetisi tersebut karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menguji kemampuan berwirausaha.
Menurutnya, mahasiswa membutuhkan pendampingan yang disertai praktik langsung agar mampu menghasilkan produk dan mengembangkan usaha secara mandiri.
Kemenekraf berharap fasilitasi melalui IDE.IND dapat memperkuat ekosistem kewirausahaan daerah, memperluas jejaring bisnis, serta melahirkan lebih banyak jenama lokal yang mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.












