Nusawarta.id, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberikan arahan kepada peserta Short Course ke China sebelum keberangkatan, Senin (5/1/2026). Program ini digelar sebagai bagian dari upaya strategis memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) di bidang infrastruktur di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Dalam arahannya, Menko AHY menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM aparatur negara sebagai fondasi utama pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing. Ia menyampaikan bahwa intensitas dan padatnya pekerjaan pemerintahan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pengembangan kapasitas dan kompetensi pegawai.
“Karena kita semua meyakini SDM yang unggul, yang bisa membawa banyak kemajuan dan perbaikan. Sekaligus kita tentu berharap dimulai dari kita, dimulai dari Kemenko Infra ini, kita juga bisa menyampaikan pesan yang positif kepada banyak kalangan lain termasuk publik, bahwa tidak ada kata sibuk, tidak ada kata padat atau tinggi intensitas, sehingga kita seperti tidak punya waktu untuk mendorong anggota kita untuk bisa meningkatkan kualitasnya,” ujar Menko AHY dalam keterangan tertulis yang dikutip di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Menko AHY menilai China merupakan contoh nyata transformasi pembangunan yang berlangsung secara masif dan cepat, terutama dalam pengembangan infrastruktur, pemanfaatan teknologi, serta penguatan sektor industrialisasi. Oleh karena itu, pembelajaran langsung melalui short course ini diharapkan mampu memberikan perspektif baru dan referensi penting bagi pengembangan kebijakan serta program pembangunan infrastruktur di Indonesia yang berorientasi masa depan.
Baca Juga : AHY: Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang Masuki Tahap Percepatan Rekonstruksi
Menurut Menko AHY, kunjungan dan pembelajaran ke China tidak hanya dimaknai sebagai agenda akademik semata, tetapi juga sebagai sarana memperluas wawasan strategis dan membangun jejaring kerja sama internasional yang berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya kemitraan jangka panjang antara Indonesia dan China yang dilandasi oleh kepercayaan, peluang kerja sama, dan kepentingan generasi mendatang.
“Ada tiga jembatan yang harus dibangun bagi Indonesia dan Tiongkok dalam memperkuat hubungan kerja sama, partnership, dan cooperation, yaitu trust, opportunity, dan future generation,” jelasnya.
Lebih lanjut, Menko AHY meminta para peserta untuk tidak hanya mengikuti rangkaian pembelajaran yang telah disusun, tetapi juga melakukan analisis sektoral secara mendalam serta mendokumentasikan berbagai praktik baik (best practices) yang dapat diadaptasi sesuai dengan konteks pembangunan di Indonesia. Hasil pembelajaran tersebut diharapkan tidak berhenti pada individu peserta, melainkan dapat dibagikan dan dimanfaatkan oleh seluruh unit kerja sebagai produk pengetahuan yang aplikatif.
“Oleh karena itu saya tugaskan kepada kalian untuk memberikan laporan kepada saya dan kita semuanya sekembali dari sana. Sehingga nanti kalian kembali juga dengan produk yang bisa di-share kepada kita semuanya,” tegas Menko AHY.
Menutup arahannya, Menko AHY menegaskan bahwa hubungan antarmanusia atau people-to-people connection merupakan elemen penting dalam memperkuat kerja sama antarnegara yang berkelanjutan, bahkan melampaui dinamika politik dan ekonomi yang bersifat jangka pendek.
Sebagai informasi, Short Course ke China ini akan berlangsung pada 6–16 Januari 2026 dan diikuti oleh 29 peserta dari lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kerja sama berkelanjutan antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya di bidang pengembangan SDM dan pembangunan infrastruktur.
Kegiatan pengarahan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Ayodhia G. L. Kalake; Deputi Rachmat Kaimuddin; Deputi Nazib Faizal; Deputi Ronny Hutahayan; serta para Staf Khusus Menteri, yakni Agust Jovan Latuconsina, Sigit Raditya, Herzaky Mahendra Putra, Merry Riana, dan Irjen Pol. Arif Rachman.












