Pengamat Sebut PAN hingga NasDem Masih Dukung Prabowo di Pilpres 2029

  • Bagikan
Capres nomor urut 2 Prabowo Subianto. (Foto:Inilah.com/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai sejumlah partai politik pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih akan mempertahankan dukungan hingga Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Menurut Adi, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai NasDem diperkirakan tetap berada di barisan pendukung Prabowo.

Partai Demokrat juga dinilai masih akan mendukung Prabowo. Namun, partai yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu disebut berpotensi melakukan tawar-menawar politik terkait posisi calon wakil presiden (cawapres).

“PAN, Golkar, PKB, PKS, dan NasDem bakal setia dengan Prabowo. Termasuk Demokrat. Tapi Demokrat sepertinya akan bargain soal posisi cawapres untuk Prabowo. Setidaknya itu yang tampak saat ini,” ujar Adi, Sabtu (12/9/2026).

Adi mengatakan peluang partai lain mengusulkan kandidat cawapres untuk mendampingi Prabowo pada Pilpres 2029 juga terbuka. Salah satunya PKB yang dinilai berpotensi mengajukan nama.

“Mungkin dari partai lain juga akan mengusulkan nama cawapres misalnya PKB,” katanya.

Baca Juga : Prabowo Klaim Indonesia Kini Jadi Eksportir Pangan, Tawarkan Industrialisasi Bersama BRICS

Meski demikian, Adi menilai belum ada partai yang secara terbuka mengunci nama untuk posisi cawapres. PAN, Golkar, PKS, dan NasDem masih berpeluang mempertimbangkan sejumlah figur yang dinilai cocok mendampingi Prabowo.

“Tapi per saat ini belum kelihatan. Sementara PAN, Golkar, PKS, NasDem mungkin juga akan mempertimbangkan nama-nama yang dinilai cocok mendampingi Prabowo,” jelasnya.

Adi mengatakan penjajakan koalisi menuju Pilpres 2029 sejauh ini belum terlihat signifikan. Para elite partai yang berada dalam pemerintahan masih lebih banyak berkonsentrasi menjalankan program pemerintahan Prabowo.

“Belum ada (penjajakan parpol). Karena fokus kerja bantu Prabowo semua. Meski satu, dua ada yang kelihatan ingin persiapan menuju 2029. Macam poros Solo dan Cikeas,” tuturnya.

Baca Juga  Prabowo Kumpulkan Menteri di Istana, Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil dan Infrastruktur Siap Hadapi Hari Raya Idulfitri

Pengamat Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati memiliki pandangan serupa. Ia menilai Pilpres 2029 masih sekitar tiga tahun lagi sehingga partai-partai politik, khususnya yang berada dalam koalisi pemerintah, masih fokus mendukung pemerintahan.

“Namun demikian, hasil survei mutakhir dan gejolak masyarakat memang menjadi evaluasi tersendiri bagi beberapa parpol koalisi,” kata Wasisto.

Menurut Wasisto, sejumlah dinamika politik yang muncul belakangan, termasuk pidato Ketua Umum Partai Demokrat AHY dan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi, dapat menjadi peringatan dini bagi koalisi pemerintah.

Baca Juga : PDIP Minta Prabowo Waspadai Manuver Jokowi-Gibran, Singgung “Kudeta Internal”

Dinamika tersebut menunjukkan konsolidasi internal koalisi turut dipengaruhi oleh respons masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

Wasisto menilai loyalitas partai politik dalam sistem presidensial tidak dapat disamakan dengan sistem parlementer yang cenderung membentuk koalisi lebih permanen.

Menurutnya, perkembangan sosial dan politik akan menjadi salah satu indikator untuk mengukur kekuatan loyalitas partai-partai pendukung pemerintah hingga 2029.

Ia juga menilai penjajakan antarpartai menuju Pilpres 2029 belum berlangsung secara signifikan. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah belum jelasnya pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu.

“Saya kira belum. Karena pada dasarnya manuver para elite politik ini juga terganjal dengan lambannya pembahasan revisi UU Pemilu,” tandasnya.

Dengan kondisi tersebut, peta koalisi menuju Pilpres 2029 masih sangat dinamis. Dukungan partai terhadap Prabowo saat ini dinilai relatif solid, tetapi perkembangan elektabilitas, respons publik terhadap kebijakan pemerintah, serta perubahan aturan pemilu berpotensi memengaruhi kalkulasi politik masing-masing partai.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *