Nusawarta.id, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan infrastruktur jalan nasional di Provinsi Aceh pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi beberapa pekan terakhir. Bencana tersebut menyebabkan terputusnya sejumlah ruas utama di jalur Lintas Timur, Lintas Barat, dan Lintas Tengah, sehingga mengganggu distribusi logistik serta mobilitas masyarakat.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, pembukaan kembali jalur transportasi menjadi prioritas utama sebelum pemerintah memulai tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pembukaan kembali jalur transportasi menjadi fokus utama. Ini dilakukan agar distribusi logistik tetap berjalan dan risiko sosial dapat diminimalkan,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Dalam upaya percepatan ini, Kementerian PU telah mengerahkan dan mengalihkan alat berat dari sejumlah proyek infrastruktur lain untuk memperbaiki akses jalan di wilayah terdampak. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran distribusi logistik, mobilitas masyarakat, serta pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi.
Baca Juga : Kemenpar Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Banjir di Tiga Provinsi Sumatra
Menurut keterangan Kementerian PU, secara umum jalur Lintas Timur Aceh kini telah kembali fungsional. Dua jembatan yang sempat putus tengah dalam proses perbaikan dengan target penyelesaian pada 12 Desember 2025. Beberapa ruas utama telah kembali dapat dilalui kendaraan, termasuk ruas Lhokseumawe–Aceh Utara–Langsa, Langsa–Kuala Simpang, serta Kuala Simpang–Batas Provinsi Sumatera Utara yang sejak 3 Desember telah bisa dilalui seluruh jenis kendaraan.
Pembersihan sedimen dan material sisa banjir masih terus dilakukan untuk memulihkan kondisi jalan secara optimal dan memastikan keselamatan pengguna jalan.
Penanganan jalan di Lintas Barat Aceh juga terus dilakukan Kementerian PU bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh. Sejumlah ruas utama telah kembali fungsional, meski pembersihan material longsoran dan banjir masih berlangsung di beberapa titik untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.
Tantangan terbesar masih dihadapi pada Lintas Tengah Aceh. Banyak jembatan putus dan badan jalan tergerus aliran sungai, terutama di akses menuju wilayah Takengon dan sekitarnya. Tercatat ada 13 jembatan yang terputus, sehingga mobilitas masyarakat sangat terbatas.
Baca Juga : Menteri PU Percepat Pemulihan Konektivitas di Sumatera, Akses Darat Jadi Prioritas Utama
Saat ini, fokus utama penanganan diarahkan pada pemasangan jembatan bailey secara bertahap dan perbaikan badan jalan yang amblas. Beberapa ruas jalan sudah dapat dilalui terbatas, seperti jalur Simpang Uning–Blangkejeren yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Sedangkan jalur Genting Gerbang–Celala–Batas Aceh Tengah/Nagan Raya masih menunggu penyelesaian akses menuju Jembatan Kr Beutong, dengan target rampung pada 17 Desember 2025.
Kementerian PU menegaskan, percepatan pemulihan jalan ini menjadi bagian penting untuk memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat terdampak, sekaligus memastikan Aceh kembali dapat terhubung dengan baik ke provinsi lain di Sumatera.












