BGN Tegaskan MBG Utamakan Balita, Ibu Hamil, dan Menyusui, Bukan Sekadar Makan Gratis di Sekolah

  • Bagikan
Sony Sonjaya saat memberikan pengarahan kepada KaSPPG, mitra, dan yayasan dalam Rapat Konsolidasi bersama Kasatpel, Mitra, dan Yayasan di Lampung, Sabtu (14/2). (Foto: BGN/Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menegaskan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memprioritaskan kelompok rentan yang dikenal sebagai 3B, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan perbedaan pemahaman di lapangan terkait sasaran utama program sebelum menjangkau peserta didik di sekolah.

Penekanan tersebut disampaikan oleh Sony Sonjaya saat memberikan arahan dalam Rapat Konsolidasi bersama Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (KaSPPG), mitra, dan yayasan di Lampung, Sabtu (14/2). Dalam forum tersebut, Sony mengingatkan bahwa pada tahap awal pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), masih ditemukan mitra yang langsung menjalin kerja sama dengan sekolah tanpa terlebih dahulu memastikan terpenuhinya kebutuhan kelompok 3B.

“Harus saya tekankan di sini karena ada perbedaan pemahaman. Pada saat SPPG baru dibangun, bahkan ada mitra yang aktif langsung membuat kerja sama dengan sekolah. Seharusnya, ketika dapur baru dibangun oleh mitra, yang pertama dicari adalah kelompok rentan ini (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui). Ini yang diutamakan,” tegas Sony.

Baca Juga : Kemensos dan BGN Matangkan Perluasan Program Makan Bergizi Gratis untuk Lansia dan Disabilitas

Menurutnya, dapur SPPG yang baru dibangun semestinya segera memetakan dan menjangkau balita, ibu hamil, serta ibu menyusui di wilayah sekitar sebagai sasaran prioritas. Langkah ini dinilai krusial mengingat kelompok tersebut merupakan fase paling menentukan dalam siklus kehidupan manusia, khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Sony menambahkan, Program MBG memiliki keunggulan dibandingkan praktik serupa di berbagai negara. Ia menyebutkan lebih dari 77 negara telah melaksanakan program makan gratis di sekolah (school meal). Namun, Indonesia menghadirkan pendekatan berbeda.

“Indonesia bukan sekadar school meal, tetapi school meal plus karena memikirkan yang 3B,” ujarnya.

Baca Juga  Kemensos dan BGN Matangkan Perluasan Program Makan Bergizi Gratis untuk Lansia dan Disabilitas

Keunggulan lain dari program ini adalah inovasi pengantaran makanan bergizi langsung ke rumah ibu hamil dan ibu menyusui dengan dukungan kader posyandu. Skema ini dirancang untuk memastikan asupan gizi tepat sasaran, terutama bagi kelompok yang memiliki keterbatasan akses.

BGN menilai, Program MBG bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045. Melalui intervensi gizi sejak dini, pemerintah berharap dapat menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas generasi mendatang.

Baca Juga : BGN Pastikan Pendataan Program Makan Bergizi Gratis Dilakukan Inklusif dan Transparan

Selain itu, Sony mengungkapkan adanya perubahan pola pikir masyarakat sejak program ini berjalan. Anak-anak di berbagai daerah, dari Aceh hingga Papua, mulai memahami pentingnya komposisi gizi seimbang dalam setiap menu makanan.

“Mindset Indonesia berubah. Yang tadinya tidak memerhatikan apa saja unsurnya, sekarang anak-anak sudah mulai melihat, dari desa sampai metropolitan, bahwa makan itu isinya empat unsur: karbohidrat, protein, serat, dan vitamin,” katanya.

Dengan penegasan ini, BGN berharap seluruh mitra dan pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang sama dalam menjalankan Program MBG, sehingga tujuan utama meningkatkan kualitas gizi kelompok rentan dapat tercapai secara optimal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *