dr. Reagen Dorong Deteksi Dini Stroke, Perkuat Peran Posyandu dan Respons Cepat Masyarakat

  • Bagikan
Dr. Relly Reagen Ketua Umum BRN. (Foto: Nusawarta.id)

Nusawarta.id, Jakarta — Stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia. Minimnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal serta keterlambatan penanganan menjadi tantangan utama dalam menekan angka kasus.

dr. Reagen, yang dikenal sebagai dokter, mantan Gubernur BEM, Ketua Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI), dan saat ini menjabat sebagai Komisaris Biofarma Group, menegaskan pentingnya deteksi dini dan respons cepat sebagai kunci utama dalam pencegahan dan penanganan stroke.

“Stroke bukan penyakit yang datang tiba-tiba. Ada tanda-tanda awal yang bisa dikenali sejak dini. Jika ditangani cepat, risiko kecacatan permanen bisa ditekan,” ujar dr. Reagen.

Baca Juga : Pemerintah Perkuat Pembangunan SDM, RI–UNICEF Luncurkan Program Kerja Sama 2026–2030

Ia menekankan bahwa waktu penanganan sangat krusial, khususnya dalam rentang kurang dari 4 jam sejak serangan pertama. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami gejala awal seperti wajah menurun sebelah, kelemahan pada tangan, serta gangguan bicara, agar segera mengambil tindakan.

Dalam upaya memperluas jangkauan edukasi, berbagai program berbasis masyarakat akan didorong, termasuk penguatan peran kader posyandu. Kader diharapkan mampu memberikan edukasi deteksi dini stroke sekaligus membantu langkah awal penanganan dengan memastikan pasien segera dirujuk ke rumah sakit dalam waktu kurang dari 4 jam sejak serangan, guna mencegah terjadinya kecacatan permanen.

“Peran kader posyandu sangat strategis karena mereka berada paling dekat dengan masyarakat. Dengan edukasi yang tepat, mereka bisa menjadi garda terdepan dalam mengenali gejala awal stroke dan mempercepat proses rujukan,” jelasnya.

Selain fokus pada edukasi kesehatan, dr. Reagen juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan relawan kebencanaan. Pengalaman tersebut dinilai memperkuat pendekatannya dalam mendorong gerakan kesehatan berbasis masyarakat yang responsif dan cepat tanggap.

Baca Juga  Kapolri Serukan Persatuan Bangsa, Minta Masyarakat Tak Terprovokasi Isu Pemecah Belah

Ia juga mendorong pemerintah untuk memberikan perhatian lebih pada aspek pencegahan sejak dini, termasuk memperkuat layanan kesehatan primer, pemeriksaan rutin, serta program promotif dan preventif yang berkelanjutan.

Baca Juga : Direktur PT Masempo Dalle Jadi Tersangka Tambang Nikel Ilegal, Bareskrim Jadwalkan Pemeriksaan

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan elemen masyarakat menjadi kunci dalam menekan angka stroke di Indonesia secara signifikan.

Dengan komitmen tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya stroke semakin meningkat, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko kecacatan permanen dapat segera mendapatkan penanganan dini.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *