Nusawarta.id, Jakarta – Sektor industri pengolahan menjadi penopang utama kinerja ekspor Indonesia pada September 2026. Penguatan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan sejumlah produk manufaktur di pasar global serta upaya pemerintah mendorong hilirisasi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, total ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai 27,59 miliar dolar AS. Angka tersebut tumbuh 3,68 persen dibandingkan Agustus 2026 dan meningkat 11,87 persen dibandingkan September 2025.
Ekspor industri pengolahan tumbuh 4,38 persen secara bulanan, melampaui pertumbuhan sektor pertambangan dan lainnya yang sebesar 2,37 persen.
Baca Juga : Menkeu Tegaskan Transfer Antarbank dan Dompet Digital Tak Otomatis Kena PPN
“Penguatan ini ditopang secara konsisten oleh sektor industri pengolahan yang sejalan dengan program hilirisasi untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah,” ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Sejumlah komoditas manufaktur mencatatkan pertumbuhan ekspor signifikan. Logam mulia, perhiasan, dan permata melonjak 116,33 persen, mesin dan perlengkapan elektrik naik 19,91 persen, serta karet dan barang dari karet tumbuh 14,87 persen.
Secara keseluruhan, peningkatan ekspor September didorong sektor nonmigas yang tumbuh 3,98 persen. Sementara ekspor migas mengalami penurunan 4,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Dari sisi kumulatif, ekspor industri pengolahan sepanjang Januari-September 2026 mencapai 182,83 miliar dolar AS atau berkontribusi 82,64 persen terhadap total ekspor nasional. Capaian itu tumbuh 8,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga : Yusril Minta Masyarakat Percaya Polri Usut Dugaan Penyadapan Ilegal
Adapun total ekspor Indonesia selama Januari-September 2026 tercatat sebesar 221,23 miliar dolar AS, meningkat 5,58 persen. Kinerja tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai 212,27 miliar dolar AS atau tumbuh 6,30 persen.
Untuk negara tujuan utama ekspor nonmigas, China menempati posisi pertama dengan nilai 54,17 miliar dolar AS, disusul Amerika Serikat sebesar 25,39 miliar dolar AS dan India 15 miliar dolar AS.
Capaian tersebut menunjukkan industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekspor nasional, sekaligus memperkuat peran hilirisasi dalam meningkatkan nilai tambah produk Indonesia di pasar internasional.












